Wednesday, 24 August 2016

Donor darah (di Singapura)

Yak, jadi setelah dari dulu niat pengen donor nggak jadi-jadi, akhirnya kejadian juga. Awalnya ragu, karena gw kira hanya PR atau penduduk sini yang boleh donor, ternyata nggak. Pertama kali donor di kampus dah lama juga sih, Maret kemaren karena sedang ada acara donor darah, yaudahlah gw mampir, secara effortnya jadi minim karena gw nggak perlu ngesot ke blood bank. Gw udah yakin nih kalau syarat donor di Indonesia dan di Singapura pasti plek-plek sama (emang di barat, berat minimal harus 50 kg, hih!!), eh ternyata enggak juga.

Setiap gw donor di Indo, hal yang paling bikin gw deg-degan adalah cek haemoglobin (Hb) dan tekanan darah karena dua hal ini yang kadang bikin gw ditolak buat donor dan disuruh balik lagi beberapa hari kemudian. Pas gw donor di Singapura untuk pertama kali, tensi gw ternyata rendah *kayak biasa* lalu terjadi percakapan:

Gw: ‘Rendah ya? Ga boleh donor dong?’
Uncle tensi (UT) : ‘Kata siapa nggak boleh? Boleh kok, cek dulu Hb, kalau oke kamu bisa donor.’
Gw: ‘Tekanan darah di bawah normal masih boleh?’
UT: ‘Sini Saya kasih tau, kalau kamu minum air yang banyak, temporarily tekanan darah kamu akan naik secara artifisial. Jadi kalau sekarang ini saya minta Kamu minum yang banyak, tekanan darah kamu akan naik, jadi ya kita nggak pake syarat tekanan darah.’

Oke, pengetahuan baru.

Lalu gw iseng membandingkan syarat donor darah di Singapura dan Indonesia (PMI Bandung) yang emang ternyata beda di poin tekanan darah. Secara umum sama ya, sehat, umur tertentu, Hb di level tertentu, ada berat minimal. Nah, tapi Singapura ini emang nggak menyaratkan tekanan darah minimal.

Selain syarat, masih ada beberapa perbedaan antara proses donor yang biasa dilakukan di Indo dan Singapura. Misalnya sistem booking dan form isian. Sistem booking ini sih yang jadi favorit gw karena membuat setiap pendonor ga perlu nunggu lama di blood bank hanya untuk ngantri giliran. Bikin akun di bloodbank (via Singpass misalnya), pilih hari dan jam, lalu isi form. Nah form isian ini pun beda dengan yang di Indo, bedanya apa? Lebih ribet. Pertanyaan lebih banyak dan sifatnya lebih spesifik. Misalnya soal penyebaran HIV. Pertanyaannya banyak dan lumayan detail, misalnya: Apakah kamu pernah berhubungan seks dan dibayar? Pernah berhubungan seks dengan orang yang terindikasi HIV? Pernah berhubungan seks dengan laki-laki yang pernah berhubungan seks dengan laki-laki lain? Selain set pertanyaan yang ribet dan lumayan banyak, sekarang ini ada pertanyaan tambahan akibat penyebaran virus Zika. Jadi gw rasa emang lebih ketat.

Hal lain adalah penggunaan pain killer. Sebelum proses donor dilakukan, petugas blood bank akan menyuntikkan pain killer ke bagian pembuluh yang akan diambil darahnya. Awalnya gw nggak paham, apaan ini kok gw disuntik, pas gw tanya, petugasnya jawab, ‘Ini pain killer. Kalau besok-besok pas donor kamu nggak mau pake, bilang aja.’ Ya gimana, di Indo biasa main tujes langsung pake jarum donor, lha ini dikasi pain killer dulu, kan rasanya jaidi kurang matcho dan gahar gitu ya *pret* Etapi beneran ngaruh lho, karena pas jarum donor ditusukkan, ga berasa apa-apa sama sekali. Dan setelah donor, perban yang dipasang pun lebih ribet, kenceng dan nggak boleh dilepas selama 4 jam...bbbzzztztttt, padahal sini udah biasa pake tensoplas thok tiap abis donor. Satu lagi, di sini selalu diwanti-wanti kalau setelah donor, kita -para pendonor-, merasa kalau darah kita baiknya nggak didonorkan untuk orang, kita bisa langsung telpon blood bank dan nggak perlu kasih alasan kenapa darah kita jangan didonorkan. Fair ya.

Kali kedua gw donor, gw bikin janji secara online. Setelah semua proses donor kelar, esok harinya tiba-tiba gw dapet SMS konfirmasi bahwa gw udah booking janji untuk tanggal donor berikutnya. Lha, perasaan gw nggak bikin janji apa-apa, ini sistemnya kok inisiatif tinggi, swabooking. Pret.

Emang sih, nggak adil kalau mau membandingkan Singapura dan Indonesia, toh di Indo pun kalau gw perhatikan kemajuannya udah banyak kok. Kalau ngeliat PMI Bandung sekarang sama beberapa tahun ke belakang, secara infrastruktur udah banyak banget perubahannya jadi lebih baik. Untuk penggunaan pain kiler atau perban maha ribet mungkin nggak urgent juga, lagi pula investasi untuk menyediakan pain killer pasti nggak sedikit, tapi booking sistem ini kalau bisa diterapkan oke banget loh. Booking system dan juga centralized database tuh cita-cita banget deh. Pendonor akan lebih tertib dan terdistribusi. Pendonor jadi nggak perlu nunggu lama karena ngantri dan petugas PMI pun pasti kerjanya lebih enak karena tiap jam akan selalu melayani pendonor dalam jumlah yang tetap. Tapi lagi-lagi ya gw paham, infrastruktur untuk bikin booking system yang rapi pasti nggak gampang, apalagi kalau mau mencakup semua tempat di Indo di mana akses internet juga masih suka mpot-mpotan. Kalau ada booking system dan centralized database, udah nggak perlu kartu lagi, mau donor di mana pun akan gampang karena track record dan database  si pendonor pasti bisa ditemukan di dalam sistem. Terus kalau kondisi di mana satu golongan darah diperlukan, pencarian akan lebih mudah. Cek database lalu hubungi langsung orangnya. Selama ini sering banget liat berita di mana ada orang yang sedang butuh darah tertentu dan biasanya beritanya disebarkan dari satu orang ke orang lainnya.

Ngomong-ngomong soal donor darah, baru beberapa hari kemarin gw baca Reader’s Digest (majalah kegemaran dari jaman kuliah dulu...ahahahahaha). Di sana ada artikel tentang donor darah dan tipe darah yang langka. Bacanya sampe terharu sendiri, karena ternyata orang baik masih banyak ya, altruism tuh emang secara alami ada di setiap orang. Salah satu cerita yang gw baca adalah tentang seorang pria asal Switzerland dengan kondisi darah yang langka, bukan cuma rhesus negatif, tapi null-rhesus. Mungkin jumlah orang dengan kondisi darah seperti ini cuma ada beberapa di dunia. Saking langkanya tipe darahnya, meski ga ada rekues akan kebutuhan tipe darah tersebut, secara rutin dia harus mendonorkan darahnya dua kali setahun (iya, cuma dua kali, ga boleh empat kali  karena dia rentan anemia) untuk jaga-jaga. Jaga-jaga kalau ada orang di belahan dunia lain membutuhkan atau bahkan dia sendiri yang membutuhkan transfusi darah. Setiap dua kali dalam setahun, dia akan ambil day-off dari pekerjaan dan nyetir ke Prancis untuk donor darah. Iya, sampai ke Prancis karena Switzerland nggak punya frozen blood bank dan kalau dia donor di negaranya lalu darahnya dikirim, akan banyak masalah birokrasi yang timbul. Akhirnya pilihan dia hanya Prancis atau Belanda, maka pergilah dia ke Prancis.        

Ada juga kasus perempuan asal Afrika yang perlu dioperasi tapi kondisi darahnya cukup langka. Akhirnya darah yang dibutuhkan harus dikirim dari Inggris. Dengan centralized database itulah semua jadi mudah, bloodbank punya data dan tinggal angkat telpon untuk minta kesediaan si pendonor. Pendonor juga kalau sehat pasti langsung setuju karena ngerti betapa berharganya tipe darah mereka untuk nyelamatin orang lain. Kayaknya nggak ada cerita mereka nanya, ‘Siapa yang butuh darah Saya? Orang mana? Bukan orang Inggris? Orang kulit berwarna ya? Ih, nggak  mau ah cusss!!’ They gladly give their blood :’)

Makanya, untuk yang eligible, ayo mari donor  *tetep ya ujung-ujungnya ngajak donor*. Donor darah itu salah satu bentuk memberi yang nggak membuat kita ngerasa kehilangan. Misalnya ya, kita ngasih donasi uang, kadang masih suka terbersit, ‘Hmmmm, itu uangnya sebenernya bisa sih dibeliin persediaan cireng seumur hidup.’ Tapi kalau yang didonasikan darah, nggak akan kepikiran kayak gitu, bahkan jatuhnya malah ngerasa bikin sehat diri sendiri karena regenerasi darah di dalam tubuh, belum lagi kalau tiba-tiba liat  poster ‘Donate Blood Save Life,’ hati langsung jadi hangat.  

Jadi, kapan mau donor? :)
Read More »

Wednesday, 10 August 2016

Melancong ke Seoul: Visa, Hostel, Transportasi dan Printilan

Setelah diari perjalanan yang ordinari dan nggak spesial :))), sekarang gw mau ngomongin soal printilans yang gw anggap penting, yuk mariiii...

Visa
Gw apply Visa dari Singapura, jadi untuk yang akan apply dari Indonesia, gw kurang tahu prosesnya seperti apa, tapi kayaknya sih sama ya, ya nggak? Persyaratan, besarnya biaya, sampai prosesnya akan memakan waktu berapa lama bisa didapat semua di websitenya, jadi gw rasa cukup jelaslah, tapi mungkin ada beberapa pertanyaan yang agak bikin bingung, misalnya:

Section 1.7 
National identity number: dikosongkan atau isi dengan N/A.
Section 3.1
Passport type: obvious sih ya, gw sih regular karena gw pemegang paspor ijo.
Section 10.2
Who will pay your travel-related expense? Kalau bayar sendiri, maka a). Isi dengan nama kalian b). My self c). Self support d). Nomor kontak kalian

Kalau persyaratan lengkap, gw rasa sih aplikasi akan lancar-lancar aja. Biaya single entry visa dari yang gw apply ini 58 SGD.

Tempat tinggal
Gw tinggal di Backpackers Inside Hostel. Selama ini kalau gw jalan selalu pilih female dorm room (bahkan waktu pergi ke Malaysia yang murah pun, tetep female dorm. Pelit tak bertepi!!). Gw jarang berinteraksi sama sesama pelancong, paling banter sama temen sekamar. Ngobrol basa-basi atau kalau mereka terbuka dan seru ngobrol agak serius. 

Nah, pas gw ke Koriyul gw milih kamar sendri tapi berjanji sama diri sendiri buat interaksi sama orang lain. Challenge accepted!!! Entah emang suasana hostelnya yang nyaman, staff nya yang baik, tamu lain yang baik atau perpaduan semuanya, everything went smoothly. Ditambah hostelnya memang hanya menerima tamu internasional, ga ada orang lokal (kecuali beberapa staf). Kalau lagi untung, ya ketemu orang dari berbagai tempat, kalau apes ya ketemunya sama orang Cina :))). 

Tiap pagi niatnya jalan sepagi mungkin, tapi pasti ketahan di sarapan karena malah ngobras dulu cynnn. Seenggaknya jadi tahu beberapa hal baru, misalnya, nggak semua orang suka sama Trudeau. Ya iayalah!! Beberapa orang asli Kanada beranggapan kalau mereka itu terlalu baik, terutama terhadap para refugee. Trudeau nerima lumayan banyak refugee, memfasilitasi dan paper work yang dilakukan (katanya) nggak gitu ribet. Orang Kanada sendiri kurang suka karena mereka terlalu 'baik' dengan refugee yang bener-bener orang asing, sedangkan banyak orang yang menikah dengan warga negara Kanada dan paper work-nya bisa makan waktu bertahun-tahun. Atau soal pekerjaan, beberapa jenis pekerjaan (misal PNS) punya alokasi tersendiri, berapa persen untuk warga lokal Kanada dan berapa persen untuk para pendatang. Mereka berpikir kalau mereka terlalu baik, we are Canadian and we are just too kind!

Sebenernya obrolan yang paling seru itu obrolan malem bersama ciwi-ciwi yang udah lumayan lama tinggal di sana, ada yang kuliah di sana ada juga yang kursus bahasa. Ada salah satu orang Swedia yang gw temui lidahnya udah lebih tajem dari Feny Rose, she trashed all things like no other. Apalagi kalau bukan soal tingginya pressure di Korea, baik secara umum maupun secara khusus terhadap cewek-cewek. Standar kecantikan cewek tuh ya yang biasa diliat di drama-drama Korea. Pantesan aja bok, dalam kehidupan sehari-hari, style mereka berpakaian dan  make-up, semuanya bisa dibilang identik. Foundation (agak) keputihan (dan lo akan bisa membedakan warna leher dan muka), warna dan cara bikin alis yang sama, sampai pilihan warna lipstik dan cara memakainya pun serupa. Okelah gw tau, studi menunjukkan kalau orang cakep emang cenderung bisa berpenghasilan lebih tinggi, tapi di Korea ini kayak udah nggak masuk akal lagi karena gw denger kalau nyantumin berat badan dan tinggi badan di CV adalah hal yang sangat umum meski yang lo lamar kerja kantoran biasa, bukan buat jadi pramugari misalnya.Gw cuma bisa bengong sambil bilang, 'Kalau gw tinggal di sini pasti ga ada yang mau nge-hire gw.' Salah satu hal yang paling gw inget adalah omongan cewek Swedia ini soal cowok Korea, 'Mereka ini rata-rata jeleknya bukan main tapi maunya ceweknya ang kayak si Suzy.'

Jadi intinya gw senang tinggal di hostel ini. Sekali lagi, entah karena suasana yang enak, staff yang baik atau kebetulan ketemu tamu-tamu yang seru. Atau mungkin gw aja yang kelewat ansos dan ga mau interaksi sama tamu lain selama ini, ahahahahahaha. Recommended deh hostel ini. 


Transportasi
Di Seoul, ada beberapa publik transport yang bisa dipake, subway/kereta, bus, taksi. Tapi sehari-hari sih gw pakenya subway karena paling familiar dengan cara kerjanya dan kecil kemungkinan gw bakal kebablasan, kenapa? Ya karena di setiap stasiun akan berhenti, selain itu di dalam kereta ada pengumuman sekaligus layar yang isinya pemberitahuan apa stasiun berikutnya. Pemberitahuan disampaiakan dan ditulis dalam Bahasa Korea dan Bahasa Inggris, jadi nggak usah khawatir. Beberapa meter sebelum berheti di setiap stasiun, akan ada musik berkumandang dilanjutkan pengumuman dalam Bahasa Korea dan disusul dengan, 'The station is XXX, doors are on your left.' Azeg.

Di Seoul (dan Korea Selatan), untuk publik transport,  kalian bisa membeli tiket untuk setiap perjalanan atau menggunakan T-Money. T-Money ini bisa didapat di convenient store. Di mana convinient store-nya? Di mana-mana. Bener-bener di mana-mana, pake banget!!! Tiap ngesot beberapa meter lo pasti nemu, misalnya  7eleven, CU, 25 gs. Kalau gw nggak salah T-Money ini harganya 4000 KRW, kenapa kalo nggak salah? Karena gw sendiri nggak beli. Kalau kalian nggak beli, setiap perjalanan dengan subway harga tiketnya akan lebih mahal 100 KRW. Saat kalian akan meninggalakan Korea, sisa deposit di T-Money bisa diuangkan, sisa depositnya ya, bukan kartunya. Sebelum terburu nafsu beli T-Money, cek dulu apa tempat kalian tinggal menyewakan T-Money. Di hostel gw, T-Money bisa dipinjam dengan deposit 3000 KRW. Untung kan ga perlu beli? *pelit tak bertepi*

Di ticketing machine pun ada pilihan Bahasa Inggris, jadi nggak usah khawatir. Pernah tuh sekali waktu gw mau beli tiket. Mungkin muka gw terlihat planga-plongo, padahal biasa aja sih, terus disamperin ibu-ibu yang kekeh mau nolongin gw, dese nggak bisa Bahasa Inggris sepotong pun dan gw nggak bisa Bahasa Korea samsek, tapi tetep bisa komunikasi lho. Dan sebelum kita pisah terjadi percakapan.

Her: grmblbrblrblrbl *Bahasa Korea*
Me: I don't speak Korean
Her: grmblbrblrblrbl
Me: I don't speak Korean *sambil kasi tanda menyilang ala Mas Anang di vc Separuh Jiwaku Pergi*
Her: *diem bentar* Arab Saudi?
Me: Oh noooo, Indonesia. In-do-ne-sia.

Ya Robb, ternyata dari tadi dese nanya gw asalanya dari mana :)))

Nah, soal transportasi menuju Nami Island, agak lumayan ribet. Dari tengah kota, kita musti menuju salah satu stasiun kereta bernama Gapyeong station. Dari stasiun ini masih harus lanjut ke halte ferry yang bisa dilakukan dengan naik bus atau naik taksi. Biaya naik bus 1250 KRW dan bus datang pada jam tertentu, sedangkan biaya taksi sekitar 3100-4000 KRW (maksimal 4 orang), jadi kalau kalian melancong dalam grup, sudah barang tentu lebih bijak kalau naik taksi.

Musola
Gw sendiri ga tau total sebaran musola di Seoul ada berapa, tapi yang pasti ada Seoul Center Mosque dan musola di KTO tourist information center. Nah, ada baiknya selalu sedia mukena dimanapun. Jadi, musola di KTO nggak menyediakan mukena, pada saat itu gw jalan pake sepatu sih, yang artinya gw sedang pake kaos kaki, amanlah kaki ketutup, masalahnya celana yang gw pake agak-agak celana akhi-akhi alias ngatung. Terpaksa pas sholat celana agak gw pelorotin, karena kalau engga, akan ada gap aurot di bagian angkel :)))).

Selain dua tempat tersebut, gw sempat baca kalau ada musola di COEX mall, warbiyasak. Lokasinya di lantai 3 dekat Hall Room E dengan fasilitas lengkap.  

Informasi
Naini penting. Untuk tahu apa lokasi yang akan dikunjungi buka atau tutup, ada admission fee atau engga, sampai deskripsi lokasi tersebut. Ada palace yang tutup hari Senin ada yang tutup hari Selasa, kan ya gondok juga udah datang jauh-jauh terus tutup. Infonya bisa dicek di mari. Hal lain yang nggak kalah penting adalah kupon discount, lumayan ada potongan untuk masuk atraksi tertentu atau belanja. Misalnya ini atau ini

Electronic Socket
Penting sih ini gw rasa. Kalau semua alat elektronik di bawa dari Indonesia, nggak akan ada masalah karena electronic socketnya ya persis di Indo. Berhubung beberapa barang elektronik yang gw bawa udah versi Singapura, maka gw perlu adapter. Sekali lagi nggak ada salahnya cek dengan tempat tinggal kalian, di hostel gw mereka meminjamkan adapter meski gw memilih untuk bawa sendiri.

Apalagi ya? Udah kali yak. Akhir kata, selamat melancong.

Read More »

Saturday, 30 July 2016

Melancong ke Seoul Hari 3 dan 4

Seoul Hari 3: Nami Island
Gw ini bukan fans berat drama korea apalagi Winter Sonata (yang kagak pernah gw tonton), tapi teteplah Nami Island itu kayaknya wajib banget buat disambangi. Apalagi lokasinya yang berupa taman besar dan alam banget suasananya, tsssaahhh, sukiyaki bangetz deh akikez. Glindingan di Nami Island ini udah bikin gw bahagia bukan alang kepalang.

Meskipun perjalanan yang ditempuh lumayan panjang karena lokasinya yang di luar Seoul, menurut gw sih worth to visit lah. Tapi kalau nggak suka lokasi yang berupa alam dan sukanya mol-mol dan keramaian kota, ya nggak perlulah mampir kemari. Masuk ke Nami Island-nya sih gratis, eh masa sih gratis? Kayaknya udah terintegrasi bersama tiket ferry yang dibeli, tiket ferry bolak-balik sekalian masuk Nami Island harganya 8000 KRW. Di dalam Nami Island sendiri banyak aktivitas yang bisa dilakukan, sepedaan, keliling-keliling dengan electric car, naik kereta, workshop buat anak (cmiiw), dll. Untuk additional activities ya bayar, kalau mau gelindingan dan tawaf ga perlu bayar lagi. Di dalam pulau ini pun terdapat guest house yang bentuknya lucu *penting*, tapi ya harga per malamnya juga mahal.


Orang banyak amat yak *jorokin satu-satu*





Ini kalau autumn pasti cakep bukan alang kepalang.




Buat brothers dan sisters ga usah khawatir soal makan dan solat. Di Nami Island ini ada musola dan restauran halal. Beneran proper musola dengan ukuran luas, area wudhu dan mukena. Kalau nggak salah, negara semacam Jepang atau Korea emang bener ngeliat potensi pelancong muslim yang jumlahnya lumayan, makanya mereka mulai mengakomodasi. Untuk reastauran ya lumayan mahal ya dengan pilihan menu masakan Korea, Jepang, Malay (?!), dll, udah lupa gw!!! Restauran dan musola ini lokasinya ada dalam gedung yang sama dengan International Children Library, bagus dan nyaman deh.




Masih di lokasi yang sama, ada galeri untuk pemenang dari Nami Concours International illustration.
 





Seoul Hari 4: Naksan Park - Seoul City Wall - Mural Village - Gangnam Area - Doenjang Yesol
Hari terakhir ada beberapa tempat yang masih gw kunjungi. Meskipun hari ke-4 ini tidak segempor hari kedua (kalau dari segi jarak yang ditempuh), tapi medan yang ditempuh tidak akan gw sarankan untuk ibu hamil atau ebeus-ebeus yang bawa anak, nanjak lho yaaaa. Awalnya sih yang utama adalah tazdabur alam di sekitar Seoul City Wall, ternyata Naksan Park dan Mural Village masih satu wilayah dan terkoneksi, ya kenapa nggak sekalian?
Apalagi Naksan Park ini lokasinya nggak jauh dari tempat gw tinggal, cuma jarak satu atau dua subway station kalau nggak salah. Sebenernya nggak ada yang spesial sih dari Naksan Park ini, ya seperti taman-taman pada umumnya. Hijau-hijau di mana-mana, ada observation point, ada lokasi untuk duduk dan santai-santai. Naksan Park ini lokasinya bersebelahan dengan Seoul City Wall









Seoul City Wall sepanjang 18.6 km ini dibangun sekitar tahun 1396 mengelilingi Seoul. Beberapa pegunungan dilalui oleh dinding ini yaitu Bugaksan, Naksan, Namsan, dan Inwangsan. Niat awal gw main ke Seoul City Wall ini emang buat hiking di sekitar Gunung Bugaksan. Biasalah, ambisi dan delusi emang tipis batasnya, udalah gw udah gempor, ga usah hiking-hiking, jalan santai di City Wall sekitar Naksan Park aja deh udah cukup. Kalau gw nggak salah, jikalau kalian mau hiking lewat area Bugaksan, jangan lupa bawa paspor karena ada pengecekan di wilayah tersebut.

Lepas dari wilayah City Wall, jalan keluar sedikit untuk masuk Mural Village. Rasa-rasanya, di Seoul ini banyak daerah yang akhirnya jadi turis atraksi meskipun awalnya berupa residensial area. Di Mural Village ini memang sebagian residensial area tapi bannyak toko souvenir (vintage) dan kedai es krim disekitarnya. 




Taking self pic while traveling alone needs an awful lot of effort :)))

Ngantri yang rapi ya dedek-dedek.
Masih dengan semangat 45, gw pindah ke Gangnam area, biar kalao ditanya orang, 'Pas di Seoul main ke Gangnam nggak?' Gw bisa jawab dengan mantap, 'Ya dong!' Padahal ya gitu doang sih sebenernya, area perkantoran dan toko-toko branded. Orang-orang berpakaian rapi, hotel berbintang ada di sepanjang jalan. Pokoknya gw langsung ngerasa gembel berat :)))). Di sepanjang jalan gw melihat banyak Gangnam Doll, boneka yang merepresentasikan artis Korea kenamaan, ibaratnya walk of fame kali yak. 


BTS? artis apa tower? *krik*
 


Sorenya, salah satu staf di hostel ngadain acara makan ke restauran korea tradisional, Doenjang Yesol. Ini dia serunya hostel tempat tinggal gw, dan yang lebih seru lagi, staff yang arrange acaranya adalah mahasiswa asal Swedia yang sekolah di Korea. Pas hari itu ada anak Belanda yang baru nyampe, dia mau studi juga di Korea tapi student housing yang ada di kota lain baru available beberapa hari kemudian, walhasil dia nginep di hostel gw tersebut, ngobrol-ngobrollah kita. Gw cerita gw sempet kuliah di WUR dan reaksi yang gw dapat sungguh warbiyasak.

Her: You studied in WUR? what? env science?
Me: ya, kind of, environmental system analysis
Her: wooooo, you must be super smart!! studying env. science in WUR is like the ultimate!!
Me: *senyum ketjut*

Itu yang terjadi ketika reputasi universiti mengalahkan intelenjensi diri, pret!! Tambah kzl karena dese sendiri kuliah ilmu sosial di Leiden, yakali kan Leiden emang bagus ilmu sosialnya *jambak*

Lagi-lagi untuk yang ragu soal makanan, mungkin nggak disarankan ke restautran ini ya, gw sih cuma pesen ke orang-orang kalau gw nggak makan babi, jadi gw diarahin untuk makan makanan yang nggak ada dedagingannya, nah cuma entah gimana mereka masakanya, ada kontaminasi apa engga.

Ehe.
Ehe.
Ehehehehehehe.

pic taken from backpackers inside facebook page.
Begitulah kisah pelancong amatir di Seoul. Bangga aja sih sama diri sendiri yang cupu dan nggak punya kemampuan baca peta. 

p.s. Foto semua hasil jepretan Oppo 1206 ga pake edit, kecuali foto makan di Doenjang Yesol ehehehehehehe.
Read More »