Friday, 27 January 2017

Kegeblekan Seleksi Beasiswa pada Masanya

Pengalaman nyari beasiswa itu selalu seru dan unik buat setiap orang. Sekarang sih bisa ketawa getir kalau inget yang dulu dikerjain, padahal pas jamannya nyari sih mewek-mewek bombay karena udah dapet dua beasiswa tapi dua-duanya slipped through my hand akibat kebodohan masa muda yang sebenarnya nggak perlu terjadi kok nggak dapet-dapet sih. Ah, kzl, zbl, cedi.

Gw nggak tahu apakah pernah cerita soal ini atau nggak, maklum ya, usia makin senja, jadi sering lupa dan suka mengulang cerita untuk kesekian kalinya *rhyme at its best!!*

Alkisah, salah satu beasiswa yang pernah gw apply adalah beasiswa yang disediakan oleh salah satu perusahan minyak kenamaan asal Prancis yang namanya sama seperti nama salah satu toko buah di area Dago-Maulana Yusup-Sulanjana, Bandung. Berhubung perusahaan ini asal Prancis, dia membebaskan para aplikan untuk cari kampus sendiri, bebas merdeka asal di Prancis. Soal jurusan, sayangnya ga bebas, karena yang eligible untuk apply program ini adalah jurusan-jursan tertentu, makanya niat awal untuk apply ke ESMOD Prancis kandas sudah *halu adalah keontji*.

Karena niat membara untuk sekolah ke Yurep, kesempatan apa pun gw sikat. Istilahnya ya tebar jaring lah, ya daripada tebar hoax. Seleksi beasiswa ini ada beberapa tahap, meliputi seleksi berkas, FGD, wawancara HR, dan wawancara dengan petinggi perusahaan. Tahap seleksi berkas paling santai karena nggak berasa apa-apa. Giliran lolos tahap satu dan melangkah ke tahap FGD, gw nerves berat. Ya Allah Tuhan YME, aku anaknya cupu, ngasih pendapat nggak berani, ngangkat tangan buat nanya di kelas atau forum pun tak sanggup. Kemampuan gw cuma mentok di level berisik via sosial media, gimana bisa ngadepin FGD. Hal yang bisa gw lakukan adalah cari-cari tips via internet, kebanyakan dari tips tersebut bilang kalau kita jangan terlalu aktif sampai kesannya mendominasi tapi jangan sampai juga terlalu pasif dan cuma ngangguk-ngangguk ketika diskusi berlangsung bak salah satu cawagub DKI. Ih, kzl deh, tips apa ini kok sungguh normatif seperti jawaban-jawaban dari salah satu cagub DKI, nggak membantu dan nggak praktikal: jangan mendominasi dan jangan pasif. Aku kan butuh solusi konkret yang aplikebel. Ya sudahlah, siap nggak siap memang harus dihadapi. Target gw nggak muluk-muluk, jangan sampai ngompol, muntah atau pengsan selama FGD, kalau ternyata gw benar-benar sampah, gw nggak akan melakukan apa yang James McAvoy pernah lakukan untuk kabur audisi, gw berencana untuk pura-pura kesurupan aja, karena kesurupan di luar kuasa gw dan gw nggak bisa disalahkan, salahkan saja para setan dan lelembut yang berkeliaran.

Hari FGD datang, ternyata gw sekelompok dengan salah sorang teman sejurusan, meskipun artinya dia jadi saingan, tapi nggak apa-apa lah, seengaknya gw agak lebih tenang dan bisa mengopi yang dia lakukan selama FGD. Cupu abis kan gw? FGD pun dilakukan, ternyata kami mendapat mendapat skenarion di mana kami terdampar di suatu tempat, entah luar angkasa atau pulau terpencil (jauh amat bedanya, pulau terpencil ama luar angkasa, antara The Martian atau Cast Away), lalu kami diberi list dari berbagai barang yang bisa digunakan sebagai survival kit dan kami harus berdiskusi untuk memutuskan barang mana saja yang harus dibawa. Temen gw membuka diskusi tersebut, berhubung temen gw yang buka, gw jadi merasa tenang, lalu mengekor dia untuk mulai berpendapat. Lalu entah apa yang terjadi, diskusi mengalir di antara kami dan ternyata gw nggak ngompol, pingsan, muntah atau pura-pura kesurupan. Yay!!

Nggak lama setelah itu, hasil diumumkan dan ternyata gw lolos. Nerves lagi lah gw harus menghadapi interview. Gimana bisa go internesyenel dan jadi seleb holiwud kenamaan kalau dikit-dikit nerves dan jiper, hih!! Waktu interview pun tiba. Beberapa pertanyaan standar ditanyakan, salah satunya adalah pertanyaan mengenai alasan gw mengambil jurusan saat S1. Bukannya kasih jawaban berbunga-bunga yang bikin gw kayak orang bener dan punya visi, yang ada gw malah memberikan jawaban ala-ala buku The Secret.

Flashback ke jaman SMA, gw punya notes yang isinya catatan macam-macam. Ada satu catatan yang gw tulis ketika gw masih kelas satu SMA, isinya berupa ancer-ancer jurusan kuliah. Di halam tersebut, gw bagi menjadi dua, yaitu IPA dan IPS. Di list IPA isinya (urut dari nomor 1 sampai nomor 3) Teknik Lingkungan, Farmasi, Biologi; sedangkan untuk IPS, gw tulis akuntansi. Gw nggak pernah sadar pernah bikin catatan seperti itu. Waktu baru naik kelas 3 SMA, gw keteteran abis karena 'bolos' sekolah sekitar 40 hari untuk misi pengenalan angklung ke Yurep. Stress dan ngerasa paling bodoh, kayaknya nggak akan ada kampus yang bakal nerima gw, SPMB nggak akan lolos dan kampus swasta pun kayaknya menolak aku *drama*. Setelah melalui jalan panjang nan berliku, di SPMB gw memutuskan ambil IPC dengan pilihan berupa Teknik Lingkungan, Akuntansi, dan Biologi. Ternyata gw lulus pilihan pertama. Setelah positif gw lulus SPMB, gw pun mulai mensortir barang-barang SMA, mana yang masih bisa dipakai dan mana yang sudah tidak akan dipakai. Nah, saat sedang menyortir barang itulah gw menemukan notes tersebut dan saat gw buka, isinya membuat gw terpana seraya berujar, 'APAAN NEH CATETAN JAMAN KELAS SATU SMA KOK AKURAT SAMA REALITI KEHIDUPAN? APAKAH INI WAHYU ILAHI ROBI?!?!?!'

Kembali ke proses seleksi. Ketika gw ditanya kenapa milih jurusan gw, gw jawab, 'I am interested with this major and it's just the way it should be.' Seraya gw menjelaskan kisah notes tersebut, ter-The Secret abis memang, ngok . Ndilalahnya kok ya gw lolos ke tahap selanjutnya. They bought my whole arguments during the interview :)))).

Seleksi terakhir mengharuskan gw datang ke kantor mereka di Jakarta. Gw nggak tahu pasti siapa yang menginterview gw, tapi gw punya feeling kalau salah satu interviewernya adalah petinggi perusahaan tersebut sekaligus bapak dari salah satu senior satu jurusan gw dan senior tersebut pun sekarang berjibaku di dunia oil service (anak sejurusan gw yang dengan apesnya baca postingan ini be like, 'Oh, I know who are you talking about.'). On a serious note, this father and son (my senior) are great people. Eniwei, seluruh dunia rasanya udah tahu kan gw nggak akhirnya nggak lanjut sekolah di Prancis, yang berarti gw gagal seleksi tahap akhir. Tahu kenapa gw gagal? Gw juga nggak tahu pasti, tapi gw punya perkiraan kenapa gw gagal. Jadi, salah satu pertanyaan di inerview terkahir adalah, 'So, are you interested to work in oil company?' Gw dengan penuh keyakinan dan kepolosan menjawab, 'No, I am not.' DUILEEEE NING!!! BEGO DIPIARA, KAMBING DIPIARA KEK BISA GEMUK...KZL :''))). Ya ngapain mereka biayain gw kuliah kalau gw nggak ada ketertarikan untuk berkontribusi di dunia minyak pada umumnya atau di perusahaan mereka pada khususnya.

Kalo sekarang diingat-ingat ya bikin ketawa. Ibarat di masa depan gw berhasil go internesyenel dan diundang jadi bintang tamu Graham Norton Show, kisah ini bisa jadi anekdot, meskipun ketika baru dialami sih bikin air mata berderai-derai. Oh, life :"D.
Read More »

Thursday, 26 January 2017

Review Film Ala-Ala: Patriots Day dan Jim-The James Foley Story

[Disclaimer] Namanya juga review ala-ala, ya pastinya ala-ala. Selain jarang nonton film, kemampuan  gw mereview film nggak ubahnya kemmapuan gw mereview makanan, asal edible, ya she-cut!!! Kalo kebangetan nggak enaknya, baru gw protes. Begitu.

Kenapa dua film disatuin? Yaudahlah biar gampang, gw nonton keduanya minggu ini, meski bentuk filmnya beda, yang satu dokumenter, tapi kalau ditarik benang merahnya, ya masih bisalah, terror attack. Satu film tentang marathon bombing di Boston yang satu tentang freelance journalis yang diculik IS dan dipenggal kepalanya.

Gw sempet milih-milih antara La La Land, Patriots Day, Dangal atau Hacksaw Ridge, entah mengapa ujungnya nonton Patriots Day (padahal kandidat kuat adalah Dangal) yang gw rada nyesel juga, why oh why? Apakah karena aku kena pelet Mark Wahlberg? Auk ah. Kenapa rada nyesel? Ya abisnya filmnya ngono thok. Gw suka ekspektasi tinggi ketika nonton film yang berdasar kisah nyata (padahl kan Hacksaw Ridge juga, Dangal jugaaaa, ah kzl), ditambah baca twitnya Joko Anwar tentang film ini, katanya oke. Jangan salah ya, ketika gw ngerasa filmnya biasa aja bukan berarti gw nggak berempati dengan korban dan peristiwa tersebut. Abisnya kan gw dulu pernah bilang betapa malesinnya buku Diary of  a Young Girl, lalu dikatakan, harusnya gw berempati terhadap Anne Frank, dia masih begitu muda tapi punya keberanian untuk menulis, betapa sulitnya. Iya gw paham, but, having a an empathy toward what she's been going through and dislike the book written by her are two different things. At least for me.    



Patriots Day. Okelah. Menurut gw ya biasa aja, you don't watch it, you don't miss anything. Pun rasa-rasanya nggak perlu pake Mark Wahlberg atau Kevin Bacon lah, asa nanaonan kitu ya??? Inti ceritanya adalah peristiwa pengeboman saat maraton di Boston diselenggarakan dan bagaimana respon dan reaksi berbagai pihak sampai akhirnya sang pengebom bisa ditangkap. Di sana juga diperlihatkan footage asli dari peristiwa tersebut dan wawancara terhadap para survivors. Menurut gw sebagai penonton ala-ala, harusnya sih filmnya bisa lebih ngena karena menunjukkan gimana respon dari berbagai pihak seperti polisi, FBI, media, presiden, dan warga yang justru jadi bersatu ketika ada peristiwa kayak gitu. Tapi yang gw pribadi rasakan justru biasa aja. Kurang menyentuh dan yagitudoanglah.

Selama film juga banyak momen di mana gw nggak fokus karena gw malah mikir, 'Ini apaan sih?' dan juga mikirin detail nggak penting. Misalnya, ada pasangan suami istri yang jadi korban, keduanya mengalami amputasi satu kaki dan mendapat treatment terpisah di rumah sakit yang berbeda. Ketika akhirnya mereka dipertemukan kembali di suatu rumah sakit, reaksi yang gw harapkan adalah, 'Ohhhh, akhirnya. So sweet....' yang ada, 'Eh bentar, tadi textnya nunjukkin berapa hari setelah peristiwa mereka ketemu lagi? Kok lakinya masih clean shaved gitu? Harusnya facial hairnya udah mulai tumbuh belum sih? Oh mungkin emang harusnya belum tumbuh. Tapi kalau seharusnya udah mulai tumbuh, itu yang batuin shaving siapa? Suster? atau bapak mertuanya? Awkward ya.' Ngapain coba ai mikir begini sepanjang film?!?!?! Peristiwa lain, salah satu scene menunjukkan satu pengebom yang udah berhasil dilumpuhkan dengan cara ditembak sedang terkapar di jalan, pengebom satu lagi (yang namanya Jahar dan gw rasa nama lengkapnya adalah Jahara cynnn) berusaha kabur dengan mobil. Pada saat Jahar tanchap gas buat kabur, dia ngelindes temennya sendiri yang terkapar, gw sadar kalau gw harusnya ngeri atau bahasa kerennya horrified, yang ada malah ngakak, literally ngakak. Mungkin saking bosennya, scene begitu jadi hiburan. 

Gw sempet kepikiran juga misalnya muslim seperti gw nonton film ini di America, apakah akan ada prejudice dari penonton lain? Mbuhlah, wallahualambisowab.

Intinya, you don't watch it, you will not miss anything.  



Jim: The James Foley Story. Mood aku awur-awuran setelah nonton ini!!! Ditambah soundtracknya dinyanyiin Sting, aransemen dan liriknya begitu amat pulak. Ambyar semua!!! Film ini merupakan sebuah film dokumenter mengenai seorang freelance Journalis bernama James 'Jim' Foley yang mengcover konflik di Timur Tengah. Dia udah beberapa kali bolak-balik Timur Tengah untuk meliput perang dan sempat ditahan oleh pemerintah Libya pada tahun 2011 namun pada akhirnya dibebaskan. Setelah itu dia memutuskan untuk meliput konflik di Syria pada tahun 2012, sekitar November 2012 dia ditahan oleh grup radikal (yang kalau ga salah sih IS, tolong aku dikoreksi, karena ada yang bilang grup X, grup Y, IS, dll) bersama seorang jurnalis Inggris. Dia disandera selama hampir 2 tahun dan sempat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dia pun disandera bersama jurnalis/fotografer dari negara lain yang jumlah totalnya sampai belasan orang. Setelah hampir dua tahun, akhirnya dia dipenggal kepalanya (iyalah kepalanya, kan dipenggal).

Awal film dibuka dengan penjelasan salah stau adik Foley mengenai bagaimana dia pertama kali mendengar berita mengenai pemenggalan kakaknya. Dari awal sampai pertengahan film, semua masih biasa aja. Menceritakan Foley ini siapa. Diisi dengan narasi dari anggota keluarga, teman, dan juga kolega yang pernah bekerja bersama Foley di wilayah konflik. Selain itu, ditunjukkan pula real footage hasil pekerjaan Foley selama ini. Beberapa bagian menunjukkan keadaan asli di wilayah konflik tanpa sensor, seperti korban perang, mayat, ledakan, dan situasi di salah satu rumah sakit di Syria. Menurut gw sih masih normal, nggak visually disturbing. Di awal film ada peringatan kok, bahwa akan ada image seperti itu, tapi proses pemenggalan Foley tak akan ditampilkan.

Pertengahan film, di mana mulai menceritakan Foley ditangkap dan disandera, sampai akhir film barulah jahanamiyah. Di bagian ini, diisi oleh bagimana kontak dan negosiasi terjadi antara penyandera dan keluarga Foley, tapi sebagian besar menunjukkan para jurnalis dan fotografer yang menceritakan pengalaman mereka ketika disandera bersama Foley. Pengalaman apa yang mereka rasakan, bagaimana Foley ketika disandera, dan kesan mereka terhadap Foley. Sedih nyet....sedih. Kadang mikir, kok bisa ada manusia yang tega kayak gitu. Ada bagian di mana salah satu jurnalis Prancis mengatakan kurang lebih, 'We were so hungry we ate banana peel. And there's a time they gave us chicken we ate its bones as well.' 

Selama disandera, Foley ini dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya dia dipindahkan ke dalam ruangan bersama para jurnalis dan fotografer yang gw sebut di atas. Karena Foley sudah hampir setahun disandera, dia sudah 'berpengalaman' dan berbagi dengan sandera lain apa yang dia rasakan. Ada waktu di mana penyandera memperlakukan mereka seperti teman, namun selang beberapa jam kemudian mereka akan datang dan menyiksa habis-habisan. 

Banyak hal yang bikin emosi naik turun ketika nonton film ini.

Ketika diceritakan bahwa Foley ini solat. Saat dia masih di Libya (atau di Iraq bantuin USAID? gw lupa), Foley memang sering solat bersama warga, karena dia sempat ditanya, 'Kok nggak solat bareng kita?' dan dia nggak tahu musti gimana ngejelasinnya. Gw nggak mau ngangkat apakah ini penistaan ketika dia ikut solat bareng muslim lain sedangkan dia bukan muslim, oke?! Ketika dia disandera dan solat, gw nggak tahu apa yang sebnarnya terjadi (of course, nobody actually knows), tapi yang bikin gw sedih adalah pernyataan seorang fotografer Denmark yang ditahan bersama Foley. Dia kurang lebih mengatakan, 'He's a man with the strong faith (faith in his own religion), but when you get used to go to Church every Sunday and attend the mass, then all of sudden you can't do it anymore, you need another way to do something with your faith.' Inti yang gw tangkap adalah Foley punya kepercayaan yang kuat pada agamanya, tapi ketika dia disandera, dia kesulitan untuk tetap terhubung dengan Tuhan-nya akhirnya supaya koneksi dengan Tuhan bisa tetap terjaga, dia memutuskan untuk (konvert ke Islam dan) solat. Gw sedih anet. Ketika seseorang 'nyari' Tuhan sendiri dan menemukan di suatu agama (lain), it's ok. Tapi kalau keadaan yang memaksa, itu sediiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhh. Tapi lagi-lagi, gw (dan seluruh dunia) nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia rasakan. Hal lainnya, ketika Foley menceritakan bahwa hari itu adalah hari ulang tahun dia. Sandera lain mengucapkan selamat dan nyanyi untuk Foley sambil mengatakan semoga tahun depan kamu bisa merayakan dengan lebih baik lagi. Tapi yang terjadi, itu ulang tahun Foley yang terakhir.

I got an impression that he's the strongest, bravest, and selfless person, among us in general and among other hostages in particular. He remained strong and even cheered Ottosen (Danish photographer) who was tortured few weeks led up to his released while Foley had no clue at all about himself. Whether he would be freed or what. Before being captured, he even raised money to get secondhand ambulance for particular hospital in Syria.

Keluarga menyayangkan respon pemerintah US yang dianggap kurang, karena belasan sandera dari EU berhasil dibebaskan dengan cara ditebus. Entahlah soal ini.

Udah ah, hayati lelah. It's a good movie to watch which leads to some kind of philosophical question ssuch as, 'Why would these war journalist are willing to do that? What am doing with my life? Have I done enough for others? Why some people could be that evil? Killing and manslughtering? ' Auk ah. Kzl. Zbl. Cedi. 

Yaitu tadi, yang paling kampret sih pas filmnya udah selesai. Lagu Sting-The Empty Chair diputar dan ada slideshow foto Foley semasa hidup. Sebelumnya gw nggak ngeh dengan hal ini, gw tahu ada wartawan US yang dipenggal, tapi gw nggak ngeh dan nggak pernah tahu ceritanya, bahkan sampai disandera selama itu. Gw nonton film ini pun iseng karena baca berita soal lagu Sting ini yang dapat nominasi Oscar. Inspirasi lagunya aja udah bikin cedi, Sting bilang 'Gw ngebayangin Thanksgiving, saat berkumpul dengan keluarga. tapi ketika sudah kehilangan anggota keluarga, kursi tempat dia biasa duduk akan selalu ada di sana, namun kosong.' *nangis senderan di dada Sting yang meski udah tua banget tetep bidang dan firm*


Silakan, ini liriknya, ayo ambil suara, Do=C, oke?

If I should close my eyes, that my soul can see,
And there's a place at the table that you saved for me.
So many thousand miles over land and sea,
I hope to dare, that you hear my prayer,
And somehow I'll be there.

It's but a concrete floor where my head will lay,
And though the walls of this prison are as cold as clay.
But there's a shaft of light where I count my days,
So don't despair of the empty chair,
And somehow I'll be there.

Some days I'm strong, some days I'm weak, 
And days I'm so broken I can barely speak,
There’s a place in my head where my thoughts still roam,
Where somehow I've come home.

And when the Winter comes and the trees lie bare,
And you just stare out the window in the darkness there.
Well I was always late for every meal you'll swear,
But keep my place and the empty chair,
And somehow I'll be there,
And somehow I'll be there.
Read More »

Friday, 20 January 2017

Thailand.....Sawadikaaa!!! (Printilan)

Mak, masih ya bahas Thailand. Gapapa deh  telat dapet daripada nggak dapet sama sekali. Banyak hal yang bikin gw amazed dengan Thailand ini, kejadian random atau hal-hal lainnya yang berkenaan dengan (jalan-jalan ke) Thailand, lebih tepatnya sih Bangkok karena beda kota mungkin beda hal. Sekarang gw akan coba rangkum.
  • Bangkok ini panasnya bukan alang kepalang (ini baru panasnya dunia!!!) padahal gw berkunjung di Bulan November. Kebayang kalau main ke sana sekitar Juli. Gw nggak paham sekarang, mana yang lebih panas, Penang atau Bangkok. Intinya, cengdem dan sunblock itu wajib hukumnya.
  • Murah. Gw nggak bisa berkata-kata ketika gw menuju Bandara Don Muang dari Hua Lamphong dan harga tiket keretanya 5 thb alias 2000 perak. Coba bayangin, masuk toilet di stasiun bayar 3 thb, sedangkan perjalanan kereta selama 40 menit dihargai 5 thb. Iki opoooo???? Meski perlu diingat bahwa itu kereta buluk ya, bukan MRT dan rawan telat juga. Belum lagi kejadian waktu mau mengunjungi Asiatique. Kebetulan kami naik bus yang jelek (indikator bus jelek, selain emang busnya nyata-nyata jelek, adalah nggak ada AC) lalu Hancong bilang, 'Ini ya, kalau busnya jelek gini, gratis ini.' Apa-apan ini????
  • Raja adalah segalanya. Setelah Raja Bhumibol meninggal, masa berkabung di Thailand berlangsung selama satu tahun, para penduduk dan pendatang disarankan untuk memakai baju gelap atau menggunakan pita warna hitam. Untuk mengenang kebaikan raja, banyak hal yang dilakukan, seperti bagi-bagi makanan yang dilakkan oleh berbagai organisasi atau berdoa bersama dan masuk wilayah Ayyuthaya gratis (universe bless the king). Awalnya, gw pikir lebay juga ya, tapi setelah dneger cerita sana-sini, Raja Bhumibol ini memang warbiyasak, wajar kalau rakyat segitu cintanya. Selama dia sakit, banyak rakyat nungguin di depan rumah sakit sambil nangis-nangis meluk fotonya. Sekelumit cerita yang gw denger dan baca, dia memang hobinya blusukan dan ngobrol sama rakyatnya soal masalah yang mereka hadapi, setelah itu dia akan bantu cari solusinya. Dia hobi fotografi dan juga main sax, tapi ya gw pikir hobi-hobi belaka, ibarat kayak gw, moto cuma bisa pake auto mode, lha ternyata nggak! Dari majalah Travel 3Sixty, gw jadi tahu kalau kemampuan doi bermain sax emang mumpuni, dese sempet nulis komposisi dan  enam diantaranya dimainkan di Broadway, belum ditambah paten-paten yang dia miliki.
  • Nggak selalu murah. Ini kalau kita ngomongin soal harga tiket BTS dan MRT. Meski ada kemungkinan bahwa kita menaiki bus gratis, tapi kalau harga tiket BTS atau MRT emang nggak murah.
  • Bikshu. Mayoritas orang Thailand merupakan pemeluk Buddha, sehingga Bikshu memang punya posisi spesial di masyarakat. Kalau MRT/BTS pada umumnya punya reserve seat untuk orang hamil, anak, orang tua, orang sakit, di Thailand ini reserve seat juga ditujukan untuk Bikshu. Di stasiun kereta pun ada ada kursi tunggu yang memang didedikasikan untuk para Bikshu. Satu waktu gw masuk ke dalam kuil dan mendapati biksu sedang berdoa, karena damai dan khidmat, ya gw menyimak sebentar. Tepat ketika gw keluar dari kuil, ada seseorang mendekati sambil nanya, 'So, you are Buddhist ya?' One of best thing I have ever heard 8'))). 
  • Propaganda masih kuat. Waktu itu gw dan Hancong sedang dalam kereta menuju Ayyuthaya dan kereta sedang berhenti di suatu stasiun. Semua berjalan syahdu, sampai tiba-tiba gw mendengar musik berkumandang dan Hancong bilang, 'Berdiri lo!' Meski gw nggak tau situasi apa yang gw hadapi, ya gw ikutan aja. Ternyata setiap jam 8 pagi dan jam 8 (atau 6?) sore, lagu kebangsaan atau himne raja diputar, dan saat itu kita diminta berdiri.
  • Transgender itu biasa. Ini bukan hal yang asing sih sebenernya. Dengan maraknya show yang dilakukan para lady boy, keliatan lah kalau trasgender itu bukan hal yang asing. Cuma kan lady boy itu komersial nan on the spotlight sebagai cara mereka cari nafkah, nah transgender yang gw maksud ya mereka yang terintegrasi dengan society dan jalan melenggang asik sama gengnya.. Hal yang biasa gw temukan adalah trans dari cowok jadi cewek yang akhirnya bergaul asik sama cewek-cewek pada umunya sambil gosip-gosip.   
  • Anello adalah keontji. Gw pikir popularitas tas Anello ini hanya di Singapura (karena starter kit pemuda-pemudi di sini dalam hal tas adalah Anello, Herschell atau  Fjällräven Kånken), ternyata gw salah. Di Thailand ini tas Anello mendominasi style para muda-mudi. Bahkan anak Indonesia yang sedang kuliah di sini buka PO untuk tas Anello-KW. Yabes, harga Anello original dan KW udah ibarat langit dan bumi.
  • Masjid, musala, dan adzan. Masjid dan musola (surprisingly) easy to find dan adzan boleh berkumandang. Di negeri yang majoritas umat beragamanya bukan muslim, tapi hal-hal seperti ini diizinkan, sungguh bikin hati hangat. Bahkan gw nggak nyangka kalau makanan halal pun cukup mudah didapat, oh influence Malaysia, sungguh indah. Ditambah (lagi-lagi) andil Raja Bhumibol yang ingin merangkul semua umat, di mana dialah yang membuat terjemahan quran tersedia dalam Bahasa Thailand, termasuk menyoal halal center dan sebagainya :')
  • Scam. Udah nggak aneh lah ya, pokonya hati-hati oleh bujuk rayu supir tuk-tuk yang menjanjikan untuk mengantar kita ke tempat yang asoy lalu narik bayaran gede atau warga random nagih bayaran karena lo mengunjungi suatu tempat padahal tempat tersebut gratis.
Kapan-kapan mampir Bangkok lagi karena masih banyak yang belum dilihat. Cukup sekian dan terimakasih. 

p.s. Selamat Inagurasi wahai Amerika, God bless you.
Read More »