Friday, 19 May 2017

Ketika Semuanya dikait(kait)kan dengan Surga

Duile judulnya.

Pilkada emang udah lewat, kehidupan emang udah agak adem, tapi perikehidupan sehari-hari nggak pernah lepas dari isu-isu SARA di mana-mana. Bukan cuma berkenaan dengan Pilkada sih, tapi emang trend global larinya ke arah sana. Ada yang konteksnya emang pas , ada yang nggak penting, ada  juga hal-hal yang (menurut gw sih) sebenarnya kasual tapi jatuhnya jadi dikait-kaitin melulu ke isu SARA. Nggak tahulah, berbi kadang-kadang pusing juga.

Misalnya nih, waktu itu gw liat ada orang yang nyeritaian kelakuan para konglomerat berkenaan dengan harta yang mereka miliki. Banyak dari konglomerat ini cuma bakal ngewarisin sedikit dari hartanya dan sisanya bakal didermakan. Kalau gw sih mikirnya ya bagus dong, tapi tetep aja di sana-sini banyak netijen yang komentarnya kurang lebih mengaitkan bahwa hal itu bagian dari hidden agenda dari zionis atau apalah gw nggak ngerti. Ahelah. Atau komentar lainnya yang mengatakan bahwa apalah semua itu percuma saja, mau didermakan sebanyak apapun ngga ada artinya, karena mereka kafirun dan ujung-ujungnya sih nggak akan masuk surga. Pret kan ya.

Ngomong-ngomong soal surga-surgaan, emang lagi trend kan ya saling menjatuhkan satu sama lain dengan argumen, ‘Ya deh yang udah PD bakal punya kapling surga.’ Menurut gw, agumen itu sih sah-sah aja dipake buat nanggepin paragraf di atas, ketika ada orang berbuat baik malah ujung-ujungnya cuma dikomentarin percuma karena nggak akan masuk surga, pede banget yha mz sama mb? Tapi ada juga momen di mana gw ngerasa argumen tersebut dipake terlalu jauh, jadinya gerah sendiri *gerah sih mandi Ning!* 

Wajar banget kan ketika seseorang berbuat baik membantu orang lain, lalu orang yang dibantu bukan cuma berterima kasih. Dia berterima kasih sambil menyampaikan doa-doa yang baik, yang kalau buat gw sih, kalau tulus jatuhnya jadi menyenangkan dan menenangkan. Misalnya, ‘Makasih loh, semoga kebaikannya dibalas Tuhan,’ atau ‘Makasih ya, semoga rejekinya tambah banyak,’ atau ‘Makasih ya, panjang umur biar bisa berbuat baik terus sama orang.’ Enak nggak sih dikasih ucapan kayak gitu? Gw pun yakin, bahkan ketika seorang ateis berbuat baik dan  didoakan, ‘Semoga kebaikannya dibalas Tuhan,’ dia nggak akan keberatan. Dan udah bukan hal yang aneh juga kalau kadang di antara orang Islam saling mendoakan surga, iya nggak sih? Gw sendiri rasanya nggak melakukan itu, tapi sering mendengar, ‘Makasih ya, semoga kebaikannya dibalas surga sama Allah.’ It’s so common dan seringnya nggak tendensius sama sekali. Tapi di jaman sekarang ini, wujud ucapan terimakasih setulus dan sesederhana itu bisa bikin ribut juga. ‘Ya deh yang bakalan dapet tiket ke surga.’  

Hayati lelah deh. Orang mau berterima kasih dan ngedoain tulus aja jadinya mikir-mikir lagi kalau akhirnya diceng-cengin seolah-olah lagi bagi-bagi tiket surga, padahal jelas ya konteksnya kek apa. Hvft deh.
Read More »

Tuesday, 16 May 2017

SPMB

Gw lagi scrolling timeline dan mendapati junjungan gw @victorkamang lagi ngomongin UMPTN, terus kan gw jadi inget jaman-jaman SPMB yang mana terjadi 12 tahun yang lalu!!!

APA?!?!?!?! DUA BELAS TAHUN YANG LALU?!?!?!

Buat dedek-dedek yang nyasar, SPMB itu tak ubahnya UMPTN tak ubahnya juga SBMPTN. Pada jaman dahulu kala disebut juga Sipenmaru.

Gara-gara rangkaian twit dan reply dari para netijen, akhirnya gw mendapati fakta bahwa Sony Sugema sudah meninggal.

APA?!?!?!?! 

Gw sebagai pentolan SSC ga pernah denger kabar ini. Ih, lagi-lagi kan gw jadi nostalgia.

Buat yang kurang familiar, SSC itu singkatan dari Sony Sugema College yang merupakan salah satu bimbingan belajar a.k.a. bimbel tempat anak-anak les pada umumnya. Biasanya peserta bimbel ini didominasi oleh siswa kelas tiga SMA yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri, siswa kelas 3 SMP yang nyiapin ujian nasional untuk masuk SMA, siswa kelas enam SD yang nyiapin ujian nasional untuk masuk SMP, alumni yang gagal SPMB tahun pertama lalu mau coba lagi dan siswa lainnya yang emang pengen bimbel aja.

Nah, sebagai siswa kelas tiga SMA, biasanya bimbel diadakan dua kali seminggu, kadang ada tambahan di akhir minggu, lalu ada Try Out (TO) sebulan sekali (bener nggak sebulan sekali?) untuk mengukur kemampuan dan simulasi SPMB ala-ala. Setelah ujian nasional SMA berlalu, maka bimbel ini masuk ke fase intensif. Dalam sebulan para siswa akan bimbel setiap hari (iya nggak sih?) dan TO setiap seminggu sekali. Gw udah pernah cerita kan ya kalau alasan gw masuk Teknik Lingkungan (TL) itu agak The Secret, tapi meski akhirnya gw masuk jurusan tersebut, dalam perjalanan bimbel di SSC, setiap TO gw nggak pernah milih jurusan TL. Gw baru mulai milih TL ketika TO udah masuk masa intensif. Lha, sebelum masa intensif apa yang gw pilih? dan kenapa nggak milih TL? Jadi begini, selama bimbel reguler dan belum masuk intensif, gw ada di fase krisis pede akibat baru pulang bolos main angklung dan super keteteran, ujung-ujungnya planga-plongo dan nggak bisa ngikutin pelajaran. Nasihat para guru sih tetep aja pake pilihan yang diinginkan selama TO, bodo amat nggak lolos, biar jadi motivasi dan biar tahu seberapa jauh kurangnya kemampuan kita untuk bisa lolos di pilihan tersebut.

Gw sebagai orang yang krisis pede dan sulit menerima kenyataan, mana mau milih TL saat TO. Orang lagi bego-begonya tuh butuh penghiburan. Akhirnya setiap TO gw pilih jurusan secara asal, yang penting passing grade jurusan tersebut bersahabat dengan keadaan gw saat itu. Tujuannya apa? Tujuannya supaya gw bisa menutup mata, menarik napas, seraya beujar, 'Tenang aja Bening Mayanti, sebego-begonya elu, masih ada PTN yang bisa elu tembus!!! You go gurl!!' Ditambah fakta bahwa selama bimbel gw selalu nyari hasil TO gw dari kanan bawah, karena emang gw biasanya ada di peringkat bawah...Ciyannnnn.... Setelah masuk fase intensif, gw baru berani pake pilihan SPMB yang sesungguhnya di saat TO.

Denger-denger, SSC mulai meredup sinarnya karena persaingan dengan bimbel lain, hmmmm wajar sih ya, namanya juga persaingan. Pada masanya, bimbel yang merajai ya SSC dan Ganesha Operation (GO). Aa beberapa bimbel lainnya, ya mereka punya pangsa pasar masing-masing. Meski SSC mulai meredup, tapi Sony Sugema udah berjasa banget buat bikin banyak anak lolos SPMB, semoga amal jariyah bapake tetep ngalir yak, dan buat dedek-dedek, selamat menempuh SBMPTN, kalau gagal, yakinlah apa yang dikatakan Shaden bahwa ♬ dunia belum berakhirrr....♬ bisa coba tahun depan atau masuk universitas swasta. Dan yakinlah, seberat-beratnya ujian masuk perguruan tinggi, masih lebih berat ujian kehidupan nyata!!! Ngok!
Read More »

Tuesday, 2 May 2017

Review Ala-Ala: [Film] Hidden Figures

Hati masih hangat nih seusai nonton Hidden Figures. Film ini dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh Margot Lee Shetterly dan dibintangi, diantaranya, oleh Taraji P. Henson, Octavia Spencer, Janelle Monáe, Kevin Costner, Kirsten Dunst, Jim Parsons. 

Gw pertama ngeh ada film ini waktu Pharrell Williams *my laf* diundang ke Ellen dan ngomongin tentang film ini. Dia sebagai salah satu produser dan komposer musik di film itu bilang betapa pentingnya untuk ngangkat kisah ini karena masih banyak orang yang belum tahu. 

Inti dari film ini sederhana, ingin menunjukkan tiga orang perempuan African-American yang bekerja untuk NASA dan punya kontribusi dalam misi peluncuran astronot untuk mengelilingi orbit. Dengan semua keterbatasan (pada masanya) dan komputer yang ukurnnya masih segede alaihim gambreng, misi meluncurkan astronot ini bukan hal mudah, ditambah tekanan dari pihak Rusia yang sudah berhasil membawa Yuri Gagarin jadi orang pertama yang mejelajah luar angkasa. 



Pada saat itu diskriminasi masih lumayan kental, dengan adanya segregasi antara orang kulit putih dan hitam untuk berbagai hal, mulai dari WC, sekolah, tempat duduk di bus, sampai tap water. Jadi bayangkan betapa beratnya tantangan untuk ketiga orang ini, udah mah negro, perempuan pulak, gimana nggak dobel ngehe. Banyak adegan yang bikin gw mbrebes mili atau teriak (dalam hati), 'YEAH!! You go gurl!!!' 

Salah satu adegan dan dialog yang paling gw inget terjadi antara Mary Jackson (Janelle Monáe) dan Karl Zielinski (tokoh fiksi yang terinspirasi dari engineer NASA bernama Kazimierz Czarnecki dan diperankan oleh Olek Krupa). Pada saat itu Zielinski menyarankan Jackson untuk apply posisi engineer di NASA karena dia merasa Jackson memang pantas dan sanggup untuk jadi engineer. Ide itu ditolak mentah-mentah awalnya karena Jackson ngerasa hal itu mustahil, perempuan hitam nggak akan punya kesempatan. Zielinski pun jawab:  

"Then, I'm a polish Jew whose parents died in a Nazi prison camp. Now I'm standing beneath a space ship, that's going to carry an astronaut to the stars. I think we can say, we are living the impossible."
Ya emang begitu, yang paling pengertian emang biasanya sesama minoritas :") 

Seperti ada umumnya film yang mengangkat kisah nyata, pasti ada ketidakakuratan yang biasanya sih disengaja supaya film lebih menarik/komersial/jalan cerita lebih ngalir, begitu juga yang terjadi di Hidden Figures. Salah satu hal yang cukup banyak dikomentari adalah soal Katherine Goble dan toilet. Setelah menerima tugas baru, Goble harus pindah dari ruangan lamanya. Di gedung baru tersebut, tidak terdapat toilet untuk colored people . Hal ini membuat Goble harus lari-lari setiap hari menuju gedung lamanya yang jaraknya lumayan jauh hanya untuk menggunakan toilet. Sampai pada suatu hari, Al Harrison (Kevin Costner, lagi-lagi tokoh fiksi yang terinspirasi dari seorang petinggi NASA pada masanya) ngamuk karena setiap hari Goble menghilang di saat orang-orang sibuk bekerja. Goble balas ngamuk dengan bilang soal keberadaan toilet sampai teko air minum yang harus dipisahkan antara dia dan kolega lainnya. Menyusul kemudian adegan Harrison ngancurin tanda 'Colored Restroom' dan bilang 'Mulai sekarang, kalian pake toilet mana pun, di NASA, kencing kita sama aja.' Pada kenyataannya, Goble nggak pernah lari-lari demi toilet dan dia selalu menggunakan toilet mana aja yang dia mau, dia nggak peduli ketika ada komplain bahwa toilet yang dia pakai bukan toilet untuk colored people (YEAH!!). Banyak yang menganggap adegan Harrison ngancurin logo toilet itu mengesankan perlunya akan 'pahlawan kulit putih' untuk membela orang hitam. 

Meski ada ketidakakuratan, tapi buat gw film ini apik banget dan tipe film keluarga layak tonton. Apalagi dengan kondisi sekarang yang rasa-rasanya kok peradaban bukannya maju malah mundur lagi. Ndilalahnya lagi, film ini pertama rilis akhir Desember 2016, tepat di saat Amerika sedang gonjang-ganjing setelah pemilihan presiden dan berbagai kejadian nggak enak terjadi sama kaum minoritas. Film ini serasa oasis dan ngasih spirit tersendiri. 


p.s. Nggak lupa juga, untuk ukhti dan akhi, Mahersala Ali juga ada di film ini. Aktor muslim ini baru aja memenangkan Oscar untuk aktingnya di film Moonlight, tapi lagi-lagi, ana cuma mau ngingetin, Ali ini Ahmadiyah. Takutnya akhi dan ukhti udah bersemangat nonton, terus pas udah di tengah-tengah film baru sadar Ali ini Ahmadiyah terus ujung-ujungnya ngamuk, astaghfirullah, jangan.
Read More »