Sunday, 19 March 2017

Review Ala-Ala: The Girl with the Dragon Tatoo

Namanya juga review ala-ala, ya isinya pasti ala-ala.

Kali ini gw mau ngomongin The Girl with the Dragin Tattoo *kemana aja Ning baru ngomongin sekarang?!?!?!?!* baik bukunya maupun filmnya. Filmnya yang mau diomongin baik versi Hollywood maupun versi Swedia-Denmark. 

Biasanya orang akan baca buku lebih dahulu baru nonton filmnya, untuk yang satu ini gw mulai dari nonton filmnya baru baca bukunya.

 The Girl with the Dragon Tattoo ini mengisahkan tentang seorang jurnalis, Mikail,  yang diminta mengungkap hilangnya seorang perempuan, Harriet, yang merupakan cucu-dari-pinggir (?!) (grand niece) seorang pengusaha terkenal bernama Henrik. Harriet menghilang saat berusia 16 tahun dari tempat tinggalnya di suatu pulau di wilayah Swedia. Dia menghilang di hari yang sama saat ada karnival, family gathering dan kecelakaan yang berlokasi di jembatan yang menghubungkan pulau tersebut dengan pulau utama di Swedia. Hal yang membuat Henrik tidak tenang adalah kado berupa pressed-flower di dalam figura yang dia terima setiap hari ulang tahunnya. Henrik merasa tidak tenang karena pressed flower adalah kado yang biasa Harriet berikan padanya setiap hari ulang tahunnya. Namun, setelah Harriet menghilang, Henrik tetap menerima kado tersebut setiap tahunnya dengan lokasi pengiriman yang berbeda-beda. Henrik berasumsi bahwa si penculik/pembunuh Harriet lah yang mengirimkan kado tersebut setiap tahunnya. Henrik pun meyakini bahwa penculik/pembunuh tersebut masih bagian dari keluarga besar mereka karena hanya keluarga yang mengetahui bahwa Harriet selalu memberi pressed flower pada Henrik. 

Hampir seluruh penghuni dari pulau tersebut adalah keluarga besar Henrik, Vanger family, oleh karena itu Mikail akan tinggal di pulau tersebut sambil berpura-pura menulis biografi Henrik Vanger dan pada saat yang bersamaan menyelidiki hilangnya Harriet termasuk menggali informasi dari keluarga Vanger yang tinggal di pulau tersebut. Dalam usahanya menyelesaikan kasus tersebut, Mikail dibantu seorang asisten bernama Lisbeth, seorang perempuan dengan tato naga di punggungnya. Apakah Mikail dan Lisbeth berhasil mengungkap misteri hilangnya Harriet?!?!?! *kalimat terakhir dibaca dengan aksen ala presenter Silet dan mata melotot*

Kalau untuk bukunya sudah pasti oke oce, bisa cek reviewnya di sini atau di sini. Ketika udah nonton filmnya, perlu diakui bahwa ketegangan baca novelnya mengalami penurunan. Tapi namanya juga adaptasi dari buku jadi film, pasti ada jalan cerita yang diubah atau dipotong supaya hasil filmnya bisa memuaskan. 

Untuk film, versi Hollywood dan versi Swe-Den ini ternyata lumayan beda, misalnya pemeran dan sutradaranya...bbbzzzttttt yakali. 

Cerita di Film
Ntah kenyataan atau hanya perasaan, versi Hollywood terasa lebih implisit daripada versi Swe-Den. Sebagai orang dengan satu sel otak, gw sering agak-agak sulit dalam memahami jalan cerita film, makanya gw nggak anti spoiler dan nggak jarang baca sinopsis sebelum nonton, ehehehehehehe. Nah, di versi Hollywood ini, adegan dibuka dengan Mikail (Daniel Craig my love) yang keluar ruangan (ternyata ruang sidang) dan dikerubuti wartawan yang mewawancarai dia. Pada saat itu gw nggak paham (karena belum baca bukunya) apakah gerangan yang terjadi? Sekian belas menit kemudian ada percakapan yang akhirnya membuat gw ngeh akan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sedangkan di versi Swe-Den, adegan awal-awal menunjukkan ruang sidang lalu seorang reporter TV sedang melakukan liputan. Liputan tersebut menyatakan secara eksplisit apa yang sedang terjadi. 

Adegan lain menunjukkan bahwa ada orang yang membobol masuk cottage tempat Mikail mengerjakan biografi/menyelidiki kasus Harriet. Di versi Hollywood, Miakil masuk ke dalam cottage, mengernyit, lalu mengecek keberadaan barang-barangnya. Keesokan harinya, seseorang terlihat memperbaiki kunci pintunya. Orang tersebut nggak di zoom (cuma jadi background) dan nggak ada dialog apa-apa. Gw baru ngeh kalau peristiwa ini terjadi pas nonton versi Swe-Den, ih kzl deh. Di versi Swe-Den, saat peristiwa ini terjadi, Mikail sudah bekerja bersama Lisbeth, ada dialog di antara mereka berdua ketika Lisbeth sadar ada seseorang yang membobol cottage tempat mereka bekerja. 

Masih ada beberapa contoh lainnya juga sih.

Keakuratan Film dan Novel
Untuk hal ini kayaknya hampir sama dua-duanya. Ada modifikasi dari kedua versi, ga aneh lah untuk film adaptasi, supaya jalan cerita lebih smooth, inti cerita bisa tersampaikan dan nggak kepanjangan. Tapi gw rasa versi Swe-Den lebih menggambarkan apa yang ditulis Stieg Larsson di novelnya. Meski versi Swe-Den lebih menggambarkan novelnya, gw ngerasa kalau transisi sub cerita di versi Hollywood lebih mulus. Kadang yang versi Swe-Den ini perpindahan dari satu sub-cerita ke sub-cerita lainnya kok kayak patah-patah *goyang kali patah-patah*

Ibarat tukang kayu motong kayu semeter jadi dua, versi Swe-Den cuma motong kayu thok sedangkan versi Hollywood ngamplas ujung-ujungnya setelah dipotong jadi dua. *perumpamaan macam apa?!*


Pemeran
Naini yang paling penting. Daniel Craig ganteng anet gw demen!!!! Gw sempet ngerasa kalau peran jurnalis untuk Craig nggak rasional karena menurut gw dese terlalu kece. Tapi temen gw yang jurnalis meluruskan kalau finance jurnalis biasanya emang kece-kece dan rapi karena seringnya meeting sama CEO. Enel uga yha, meski tetep aja Daniel Craig ini rasanya kok terlalu Hollywood dan terlalu hawt. Ya gimana nggak hawt, lha wong di film ini dia wujudnya begini:

Mz, ayuk kita kemon Mz...
Gw lebih demen Daniel Craig di sini daripada di James Bond, yabes di James Bond berotot amat *nama pun agen rahasia*

Menurut gw, ada tiga peran utama di film ini, yaitu  Mikael Blomkvist (sang jurnalist), Lisbeth Salander (cewek yang punya tato naga), Henrik Vanger (pengusaha).

Mikael Blomkvist
Seorang jurnalis finansial berusia empat-puluh-sekian yang pernah membongkar kasus perampokan dan menulis artikel/buku kontroversial mengenai pengusaha abal-abal.
Hollywood vs Swe-Den

Hollywood vs Swe-Den
Gw tetep ngerasa kalau Daniel Craig ini Hollywood abis. Meski dari lubuk hati terdalam gw condong pada Daniel Craig, tapi Michael Nyqvist terasa lebih membumi *apose*

Lisbeth Salander
Deskripsi dia adalah seoarang perempuan 24 tahun (kalau gw nggak salah) dengan perwakan kecil sekitar 40 kg, ansos, hacker, (dianggap) bermasalah sedari kecil, dandanan nyentrik dan rambut dicat hitam.

Hollywood vs SweDen
Kalau diliat, tokoh Lisbeth ini mirip banget deh baik versi Hollywood atau SweDen. Meski demikian, gw pribadi ngerasa versi Hollywood ini lebih bisa menyajikan tokoh Lisbeth seperti apa yang dideskripsikan di dalam buku. Tapi kalau tato naganya lebih bagus versi SweDen *penting*.

Henrik Vanger
Pengusaha, mantan CEO Vanger grup, yaitu perusahaan keluarga yang pernah berjaya pada masanya. Seiring dengan berjalannya waktu, kejayaan perusahaan mulai memudar. Beberapa anggota keluarga Vanger tergabung di Nazi dan memiliki sifat anti-semit. Henrik berusia sekitar 70-80 tahun, mulai sakit, tapi masih gagah dan tajam.

Hollywood vs SweDen
Udahlah kalau ini, Christopher Plummer ke mana-mana deh.

Satu tokoh lagi yang pengen gw omongin adalah Martin Vanger. Kedua versi memilih pemeran Martin dengan apik. Kedua-duanya malesin dan dari pertama nonton lo udah ngerasa ada yang salah dengan orang ini.

Jadi mana yang lebih gw suka? Gw lebih suka versi Hollywood. Mungkin gw bias karena keberadaan Om Daniel Craig atau terbawa nama besar David Fincher. Mungkin juga gw lebih bisa nikmatin karena versi Hollywood ini berbahasa Inggris. Tapi yang pasti, gw ngerasa versi Hollywood ini lebih apik dan lebih smooth.

Sekian review ala-ala kali ini, nantikan review ala-ala nggak berfaedah lainnya.
Read More »

Friday, 17 March 2017

Kenapa Babi?

Di antara dua kata di judul tersebut, tidak dipisahkan dengan koma, jadi judul tersebut bertanya secara netral, bukan mau ngatain satu pihak sebagai babi :)))).

Jadi begini, di Singpura ini kebetulan pemeluk Islam lumayan banyak, pun dengan orang India, walhasil ketika ada perhelatan, menu yang ditawarkan biasanya halal dan ada opsi vegetarian (gw senang dengan hal ini, meski bukan berarti semuanya berjalan mulus dan sempurna, tapi society yang inklusif begini bagus, semua merasa dihargai dan diakomodir). Biasanya kalau bentuk makannya prasmanan, lo akan liat sertifikat halal ikut dipajang di meja prasmanan atau kadang gada sertifikat halal tapi dia ga pake menu babi. Ada beberapa yang nggak mau makan menu ini karena meski nggak berbabi, tapi tetep menu daging-dagingannya nggak disembelih secara halal (fair enough), tapi kalau gw pribadi sih ya gw sikat.

Ehe.
Ehehe.
Ehehehehe.

Go judge me.

Nah, beberapa hari yang lalu gw ikutan winter school (paan neh winter school di Singaparna), sejenis short course gitu, niatnya sih buat melebarkan lingkar otak meski yang terjadi justru lingkar perut yang melebar. Ya gimana, yang ada coffe break secara teratur dan makan siang secara paripurna. Nah, di suatu coffee break, gw membabi-buta dengan mengambil mencicipi beberapa makanan yang ada. Beberapa untuk vegetarian beberapa nggak. Kemudian sampailah gw menggigit sesuatu yang kenyel-kenyel dan isinya berdaging. Reflek pertama gw adalah ngelepeh makanan tersebut yang sejurus kemudian gw sadari itu adalah Chinese dumpling. Setelah itu gw berhenti makan dumpling tersebut (kemudian gw tahu selama short course ini si katering nggak nyediain menu babi).

Setelah persitiwa ngelepeh dumpling, satu pertanyaan timbul di kepala gw. Btw, ini pertanyaan buat diri gw sendiri ya (kalau ada pemirsa yang ngerasa, ya maap-maap ya...fufufufufufu). Kenapa gw (dan beberapa orang di luar sana yang gw tahu) menetapkan babi sebagai batas/boderline? Maksudnya gini, coklat ada rumnya? sikat! Tape? sikat! Croissant dengan filling coklat ber-rum? sikat!! Semua maksiat disikat dan diperbuat kecuali makan babi.

Ehe.
Ehehe.
Ehehehe.

Btw, balik lagi ke persoalan babi. Seperti yang gw bilang, ketika gw nemu makanan berdaging yang meragukan, insting pertama pasti berkata, 'Gimana kalau ini babi?' terus gw berhenti makan. Tapi itu nggak terjadi dengan (makanan atau perilaku) yang lainnya. Why oh why? 



p.s. I know lotsa people out there can relate to me.
Read More »

Sunday, 12 March 2017

Beasiswa (again....)

Ngomongin beasiswa tuh nggak akan ada habisnya. Entah proses ngedapetinnya, entah jenisnya, entah syarat-syaratnya, entah para penerimanya. Beberapa hari yang lalu, gw dan salah seoarang alumni Wageningen yang sekarang kerja di Landa (sebut saja Mawar demi menjaga privasi) habis bergunjing soal kelakuan penerima salah satu beasiswa prestis Indonesia (sebut saja beasiswa ABC) yang sumber dananya dari masyarakat Indonesia juga, para pembayar pajak. Semoga kelakuan mereka ini nggak mencerminkan kelakuan sebagian besar para penerima beasiswa ini, semoga bocah-bocah ini hanyalah outlier yang sedang khilaf.

Mari kita mulai dengan diri gw (dan juga si Mawar) yang mana penerima beasiswa dari salah satu foundation bentukan Om Anne van den Ban, seorang akademisi dan juga filantropi yang emang niatnya ngasih kesempatan bocah-bocah negara berkembang supaya bisa kuliah ke Wageningen. Ya namanya lembaga berbasis donasi, jumlah beasiswa yang dikasi cukup tapi nggak bisa bikin si penerima hidup bermewah-mewah *hyuk*. Tapi berhubung gw kopet mendarah daging, ya dengan beasiswa segitu gw tetep bisa hidup layak, jalan-jalan, senang-senang dan nabung (dikit). Ya diakalinnya bisa dengan banyak cara, ada yang sewa kamar berdua temennya, ada yang milih housing super murah (ini gw!!), masak dan bawa bekel tiap hari ke kampus, dan masih banyak cara lainnya semisal datang ke acara orang Indo buat makan gratis terus ngebungkus. 

Makanya gw sering kesel ketika ada anak pemerima beasiswa prestis tersebut, atau penerima beasiswa dari satu institusi tanah air yang-suda-terkenal-telat-mulu-ngasi-allowance-per-bulannya-tapi-jumlah-allowannye-lumayan-banyak, Stuned atau NFP  datang ke gw lalu mengeluh. Biasanya awalnya mereka nanya apa jumlah allowancenya akan cukup untuk tinggal sebulan. Jawaban gw? Lebih dari cukup, selain itu gw juga bilang kalau dengan uang tersebut meraka ini pasti masih bisa jalan-jalan. Khawatir kalau uang nanti nggak cukup ya wajar, tapi kalau jadinya lebay dan merongrong gw yang jumlah beasiswanya bak kaum Sudra, jatuhnya ya jadi ngeslein juga neyk. Habis itu biasanya pertanyaan merepet ke berapa beasiswa yang gw dapet, yang biasanya cuma gw jawab, 'Udah, punya lo lebih gede dan lebih dari cukup, santai.' Terus nanti lanjut nanya berapa sewa housing gw yang ujung-ujungnya, 'Kok housing lo bisa murah? Sisa beasiswa lo banyak dong? Enak dong?' Kan telequeeeeeeee!!!! Gw kan tinggal di Wageningen yang emang kota kecil desa dan emang pilih housing yang murah karena menyesuaikan dengan duit beasiswa gw, ditambah kamar gw relatif lebih kecil dibanding housing lain yang lebih mahal, plus, semua fasilitas sharing, mulai dari dapur, toilet, dan kamar mandi. Belum kalau pertanyaan selanjutnya adalah, 'Ini biaya buku, sttlement awal, dan riset bakal cukup nggak ya?' Ya Allah Tuhan YME, skema beasiswa gw ga ngasih fasilitas seperti itu, tuition fee dibayarin kampus dan hidup sehari-hari dibayar oleh foundation gw. Udah ngono thok. Bahkan uang asuransi (karena wajib punya asuransi) di potong dari allowance bulanan gw, ga ada bajet khusus tersendiri. Wajar dong ya kalau gw esmosi sana-sini.

Satu yang harus diingat dan diresapi, kalau pemberi beasiswa memang ngasih beasiswa full, ga usah khawatir, karena mereka pasti ngasih dalam jumlah lebih dari cukup. Di mana para penerima beasiswa nggak akan kekurangan dan bisa fokus buat belajar. Gitu. Percayalah sama gw. 

Nah, sekarang kembali ke gosip yang gw dapat mengenai anak-anak penerima beasiswa ABC. Konon katanya mereka ini ngegang. Okelah, ini lagu lama, yang kayak gini pasti bakal ditemui di mana-mana. Awal datang, dulu gw lebih akrab sama senior angkatan atas karena orang Indo lain nggak ada yang nerima beasiswa yang sama dengan gw. Nggak ada pengarahan sebelum berangkat, nggak kenal siapa-siapa, cus sendokir. Sedangkan beasiswa lain, biasanya ada briefing bareng-bareng, pengarahan, bahkan sampai berangkat bareng. Oleh karena itu, perkara genggong adalah hal yang sangat wajar karena mereka suddah saling kenal sebelum berangkat dan banyak yang punya latar belakang/jurusan yang sama, nbd, ku tak peduli. Gw lebih nyaman juga sama angkatan atas entah mengapa gw ngerasa lebih diterima, dan percayalah, ketika sudah ada genggong terbentuk, try to enter that circle is the last thing I want to do, esp if group does not seem benign. Secara perseorangan baik dan oke-oke aja, tapi kalau udah bareng-bareng, ngutip bahasa temen gw, mereka kayak posses. Tapi yaudah, ga masalah *ini ngapah jadi gw yang curhat ga punya temen?! Ihhhh..ciyan deh* 

Balik ke penerima beasiswa ABC, selain ngegang (yaudalahya) mereka cenah spend money like a boss (yaudalahya, duit mereka. Asal jangan kayak temen-temennya Hancong yang begitu duit beasiswa turun langsung dihambur-hamburkan tapi begitu akhir bulan pinjem duit temennya, kan pret!!), nah yang ngeselin dari mereka adalah komentar terhadap temen seangkatannya sendiri yang menerima beasiswa yang sama dengan gw dan Mawar. 'Kok bawa bekel mulu tiap hari sih?' atau 'Kok tiap beli kopi selalu yang murah dari vending machine padahal kan nggak enak?' (di gedung utama kampus gw emang ada vending machine buat kopi dan kafe yang jual macem-macem termasuk kopi yang proper). Kurang basi apalagi coba orang-orang ini ngomentarin kayak gitu sama temennya sendiri?  Kalau emang tujuannya pengen hemat dengan beli kopi yang murah atau bawa bekel tiap hari terus kenapa? Hah? Hah? Hah?!?!?! 

Saran gw untuk adek-adek ini *yakali mereka baca*, kurang-kurangin komentar nggak penting sama temen sendiri (atau sama siapa pun) karena gw melihat dalam diri kalian bibit-bibit tipikal netijen Indonesia nan budiman yang kadang kasih komen nggak penting seperti di postingan di bawah ini:


Mungkin niat kalian juga baik pas ngomentarin temennya yang bawa bekel tiap hari dan beli kopi yang murah.

Balik lagi ke gw.

(Ujung-ujungnya gw-gw juga yang curhat, wae.)

Dulu juga ngalamin dikomentarin temen sendiri soal harga sewa housing gw yang murah, tanggapan gw biasanya, 'Yaudalah pindah sini.' Tapi paling jawabannya, 'Nggak mau ah, dapurnya sharing, kalau masak nanti repot, belum kamar mandinya kayak barak, nanti diintip pas lagi mandi.'

YHA :)))).

Kamar mandi Asserpark yang kayak barak. Atas-bawahnya ada celah.
Landa-landa ini juga nggak kurang kerjaan sih ngintipin orang mandi, yang ada ngobrol santhay  pas lagi mandi bareng. 

Maksud gw bukan mandi-bareng, mandi-bareng, tapi pas di bilik sebelah ada yang mandi juga. Gw suka sih, karena nggak harus hadap-hadapan muka, gw nggak tau ekspresi mereka dan mereka juga nggak tahu kalau ekspresi gw kayak apa pas lagi ngobrol.

Hal lain adalah ketika gw magang. Kebetulan upah magang gw di atas rata-rata upah anak magang pada umumnya, mayan kan ya. Terus tetep ada yang komentar, 'Wah, kaya dong lo sekarang, gaji magangnya gede?' rasanya pengen ta peperin upil sambil jawab, 'Yaudahlah lo juga tau beasiswa gw berapa.' Kan pret ya.  

Emang benar adanya bahwa manusia berencana, Tuhan menetukan, manusia lainnya ngomentaran.

Oh lyfe.
Read More »