Saturday, 14 January 2017

Thank you Michelle Obama (and becareful Jimmy Fallon)

I'm not American (obviously!!) nor I pay so much attention to the world's political situation. But admit it, 2016-2017 has been an interesting transition in American politics. Yes, I am talking about the presidential election process that resulted the now elected president. Of course, we're not going to talk about it, nobody needs bad mood in the weekend. But when Obama presidency term is officially close to an end (just wait for inauguration, rite?), there's so much going on in the internet that makes me feel so emotional (in a good way).

Once again, I'm not going into politics nor his policies that I'm sure at some levels were not always good or even made things get worse

But still, I admire him as a human being. I think he's a cool and a decent one.

First and foremost, Mr. & Mrs. Obama relationship. They're just amazingly sweet and that's how relationship goal should be. Obama always gives Michelle credits as a mother of their daughters and for taking a role to contribute as much as possible to their nation. I was weeping over his farewell speech.



Then Obama and Biden bromance shows us how friendship goal should be. It's not only about professional work, but also personal, it's beyond sweet.



And here, I just want to express how I admire Michelle. As a mother of two daughters, as mother of the nation, as a wife, as a daughter, as a woman, and as a person. She's an icon of everything. She's awesome in so many ways. And she inspires us, (not only for American, not only for woman) to aim high and be a better person. She's not always serious all the time though, she has a good sense of humor and not afraid to be silly. Just look at how she nailed the mom evolution of dance part 1 and 2 (as part of her Let's Move program) and also doing 'Ew' with Jimmy Fallon  or made an impressive Barack Obama impersonation. To conclude it, she's awesomely amazing!!!



And don't forget her simple but powerful final speech. 


This last one, is one of my favorite :')


The impact she brought can be as powerful as believing in our self that race, religion or gender does not define us, we could reach our potential and aim high. Or as simple as helping that father's daughter to eat vegetables. Sweet. 

So, after watching that video, I thought to myself why not am I doing it? Even though that there's no way that she will read it, but hey, she's an amazing person.
So, First Lady Michelle Obama, it' just so weird to thank to you because I am not even American. But I actually have a connection with your husband, a tiny little strong connection. Well maybe not me who has that connection, but my country since I am an Indonesian. So, I would like to thank to you for being such a great inspiration for us. For encourage us to aim high regardless our race, gender, religion, or family background. For always reminding us about the importance of hope, kindnesses and helping each other, hard work, and also education. Those things could really bring us places in life. As I said, I'm not American (though I want to go there one day, but wait, will I be banned from entering your country because I am a moslem? The new president once said that), but I saw how you make White House became more accessible for many people, just like the girl scout sleepover, really it could not be more awesome!  Even though your husband is not serving your country as a president anymore, I hope you won't stop. I hope that you'll continue your journey in serving your country in particular and this world in general. Last but not leas, I watched that 'Thank You Note' clip you did with Jimmy Fallon, and you know what? You're so good and you completely nailed it. You sat on the chair with the desk and facing front the camera. You're so good!!! So, while your husband was offered a job from Spotify, you should consider the role at The Tonight Show. So, for you Jimmy Fallon, you'd better be careful on this. So, once again, thank you so much!!
Now I am looking forward for any inspiration from the upcoming first lady.
Read More »

Wednesday, 11 January 2017

Alih Profesi

Kalau gw bisa halu untuk alih profesi, tanpa pertimbangan apakah skill gw mumpuni atau nggak, apakah secara finansial menjanjikan apa nggak, akan ada beberapa profesi yang pengen gw jalani.

Baker
Baker lho ya, bukan chef dan tanpa embel-embel ‘Street’ *Baker Street maksudnya ->> krik!* Baker-nya pun kheses roti-rotian atau pastry, bukan cake atau kue kering *berhubung halu, bolehlah rese’ dan spesifik soal profesi khayalan ini*. Meskipun katanya jadi baker itu capcay, apalagi kalau artisan dan prosesnya belum secara mekanik. Mana pulak  yang namanya roti kan identik dengan sarapan, untuk mengisi perut-perut lapar kaum pencari rejeki di pagi hari, otomatis, sebagai baker, hari akan dimulai sejak subuh, sebelum ayam berkokok dan tepat setelah Valak dan Mama yang berkeliaran kembali ke peraduan.  

Kebayang pagi-pagi udah ribet buat ngantor ke bakery. Trisep dan bisep yang lama-lama berkonde akibat ngadonin adonan, tapi terbayar pas roti-roti mateng dan diangkat keluar dari oven, wanginya nggak ada dua. Ditambah wajah-wajah rusuh terburu-buru karena udah telat ngantor bahagia dari para pembeli di pagi hari. Kok ngebayanginnya membahagiakan sih??? Ya namanya juga ngebayangin doang, mana tau capeknya. Kalau udah bosen pensiun dari dunia bakery secara formal, palingan gw banting setir bikin channel YouTube khusus baking. Tetep lho ya, ujung-ujungnya sih demi eksistensi yang fana. 

Librarian
Kayaknya damai nggak sih jadi librarian? Zen gitu. Duduk di dekat pintu masuk perpus, atur-atur buku di rak, urus katalog, bantuin pengunjung ndeso cem gw yang bingung kalau mau minjem buku dengan system online. Ketika sudah malem (ini yang gw temui di perpus Wageningen University), gw akan ngasih pengumuman, ‘Ladies and gentlemen, the library will be closed within 15 minutes, blablablablabla.’ Beuhhhh, berasa punya kuasa banget, ibaratnya sih bilang, ‘Pulang kalian semua, ngapain malem-malem masih nongkrong di perpus? Get a life lah jangan kayak gw!!!’

Tapi pasti banyak ribetnya juga ya, kalau buku ada yang ilang atau keselip, belum kalau ukuran perpustakannya luar biasa besar. Ditambah lagi ngadepin pengunjung yang ndableg. Ya pengunjung cem gw ini. Jaman di Wageningen dulu, ada aturan soal apa-apa yang boleh dikonsumsi di dalam perpus, seperti minuman dan makanan yang ga ribet dan menimbulkan remah dan ribut (misal, boleh makan sandwich kemasan). Ya kan gw bandel, gw hobinya makan pisang atau apel, sampai sering banget ditegur oleh librarian, dan setiap ditegur jawaban gw, ’Oh, Saya masih baru di sini belum tau aturan di sini kayak apa.’ Terus sang librarian cuma nyerahin flyer yang isinya aturan perpus termasuk apa-apa yang boleh dikonsumsi di dalam perpus.

Nah, semisal gw kerja di perpus, maunya sih di tempat yang seperti....

Tama Art University Library.
Pic from here

Alexandria library.
Pic from here
James B. Hunt Jr. Library
Pic from here
Screenwriter
Duileeee, halunya semakin lama semakin ngelunjak :))). YA NAMANYA JUGA HALU. Pengennya sih nulis jadi aktris kenamaan ya bok, karena boleh jadi gw bisa beradu akting dengan Ewan McGregor ataupun terpilih sebagai Bond girl. Tapi nggak ah, kehidupan terlalu terekspos. Bukan cuma kena jepretan paparazi, tapi juga kena jepretan hengpong jadul lambe turah...mihihihihihik. Jadi mending gw turunkan delusi ini ke level screenwriter. Eh bentar, screenwriter itu orang yang bikin cerita/narasi buat film kan? Kalau yang nulis script, namanya scriptwriter kan? Gw maunya jadi penulis cerita, bukan script. Karyanya ada di mana-mana, dilihat banyak orang, bangga, tapi kehidupan nggak (begitu) terekspos. Kalau gw jadi screenwriter, mungkin gw akan nulis cerita yang dark dengan ending yang ngeselin dan aneh atau nulis cerita bergenre drama yang (rada) absurd. Cem Enemy atau Frank.
Read More »

Friday, 6 January 2017

Singapura dan Label Halal

Sebagai muslimah soleha, pengennya bisa mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya *terbuku agama jaman SD*, salah satunya soal makanan. Biar geblek begini, gw kalau makan masih agak pilih-pilih.

(((agak)))

Meskipun gw mah nggak strik dan sangat nggak bisa dijadikan panutan sebagai muslimah, go judge me 8)))). 

Hal yang gw acungi jempol dari Singapura sebagai negara sekuler adalah kejujuran mereka soal makanan. Meski sekuler dan adzan nggak boleh berkumandang, dan orang-orangnya banyak yang kamfretz, tapi mereka ini jujur dan menghormati hak-hak elo sebagai individu dan penganut suatu agama. Salah satunya mungkin karena penganut Islam di sini tergolong banyak juga sih. Misalnya yang satu ini:

Informasi kayak gini sangat umum dan sangat nolong :)
pic from here
Keterangan di atas bisa ditemui dari salah satu jajanan kenamaan di Singapura. Meski kalau buat gw sih dangerously expensive lebih menggambarkan, ketimbang slogan mereka dangerously addictive *pelit tak bertepi*

Ditilik dari Islamic diet restriction, ada beberapa jenis kategori tempat makan di Singapura:

Halal certified
Ini mah udah jelas ya. Tempat makan tersebut punya sertifikat halal. Untuk apply ini pun ada syaratnya (yang mana gw ga tau syaratnya apa aja sih), salah satunya punya pegawai yang beragama Islam minimal 2 orang (?!). Pokoknya amanlah, halal.

Sedang dalam proses
Sedang dalam proses untuk mendapatkan sertifikat halal ini bisa terjadi pada tempat makan yang baru buka atau tempat makan yang sedang meperbaharui sertifikatnya. Biasanya mereka mencantumkan keterangan ini supaya pengunjung merasa tenang.

Tidak punya sertifikat tapi halal 
Ini nggak punya sertifikat tapi kok halal? Gimana sih maksudnya? Jadi begini, menu yang disajikan adalah menu yang halal, hanya saja tempat tersebut nggak mendaftarkan diri untuk mendapatkan sertifikat halal, kenapa?  Bisa jadi alasan ekonomi karena untuk dapat sertifikat halal pasti ada biayanya dan sertifikat tersebut hanya berlaku sampai kurun waktu tertentu dan perlu diperpanjang setelah kadaluarsa. Alasan lain adalah penjualan alkohol di tempat makan tersebut. Menunya memang halal, tapi mereka menyediakan minuman beralkohol, hal ini bikin nggak eligible buat dapet sertifikat halal.

No pork no lard
Ini untuk tempat makan yang menunya nggak mengandung babi-babian (daging, lemak, kaldu, etc) tapi nggak halal di mana dagingnya nggak disembelih berdasar aturan Islam. Mereka biasanya mencantumkan keterangan ini juga di tempat makannya, karena orang cem gw ketemu tempat makan kayak gini ya gw shikatttt!! Told ya’, go judge me 8)))

Berbabi
Ini udah jelas lah ya, menunya macem-macem, termasuk babi. Kalau kita pergi makan, kadang kita nggak yakin juga tempat makannya masuk kategori mana, tanya aja, karena orang-orang di sini paham sama muslim dietary restriction. Kadang kita nggak nanya dan main masuk aja, pegawainya biasanya pada sigap kok untuk ngasih informasi apakah tempat makan tersebut masuk kategori no pork no lard atau memang berbabi atau halal tapi tak bersertifikat. Mereka jujur dan fair, setelah ngasih informasi, ya pilihan di tangan konsumen, mau lanjut makan atau cus cari tempat lain.

Orang lokal non Muslim pun paham dengan restriksi ini. Gw kalau lagi jalan sama orang-orang sini jatuhnya jadi faktor pembatas buat mereka, mereka harus ngikut restriksi gw dan ikut makan makanan yang halal *atau at least no pork no lard:)))*, untung pilihan banyak dan mereka pun suka dengan masakan Melayu/Indo/India/Timur Tengah.

Gw rasa sih ini fair dan kejujurannya patut dicontoh. Ya di Indonesia sih cenderung aman karena rata-rata proses penyembelihan dilakukan secara islam, jadi selama nggak berbabi, ya bisa diasumsikan itu halal. Ya kalau apa-apa musti dipakein sertifikat halal kan repot juga *hello makanan kucing halal dan telur ayam halal. Frikkin' lebay!!*, yakali warteg mau daftar sertifikat halal ke MUI dengan segala keribetannya dan masih ngeluarin biaya juga. Buat gw sih yang paling penting penjualnya jujur dan mau kasih informasi terhadap konsumen. Beberapa waktu silam gw sempet denger ada kehebohan karena ada pedagang bakso babi dan diminta berhenti jualan. Kenapa musti heboh dan minta berhenti jualan sih? Harusnya ukhti dan akhi yang suci dan aku penuh dosa *ditoyor awkarin&yanglek* bersyukur dong, penjualnya jujur kalau yang dijual bakso babi, kan jadi nggak terjebak untuk beli dan bisa pilih untuk beli makanan lain, yenggak?

Read More »