Saturday, 24 June 2017

Nggak Boleh Dibecandain

'Heh, xxx [isi sendiri] ga boleh dibencadain.'

Bukan hal yang aneh lagi ya, apalagi di jaman sosmed kayak gini, meme-meme berseliweran. Tersering sih meme dari selebriti atau politisi dengan pose yang unik, terus netijen kasih caption, kalau penasaran kayak apa, sila tadarus salah satu idola gw, @victorkamang. Biasanya sih banyak yang tersinggung terus ngamuk-ngamuk sama dese. Makanya udah bukan hal yang aneh lagi kalau sampai ada meme kayak gini.
Tahun bisa disesuaikan
Pertanyaannya sekarang adalah, 'Emang ada hal yang nggak boleh dibikin becandaan?' Gw secara personal (pengen) bilang ada. Tapi kalau pertanyaannya berlanjut, 'Kalau gitu, apa yang nggak boleh dibecandain?' di sini gw nggak bisa jawab. Apa yang nggak boleh dibecandain? Nggak tahu juga sih. 

Gw termasuk orang yang doyan nonton stand up komedi, ya nggak doyan-doyan banget sih, referensi gw soal komedian ya di situ-situ juga, dikit banget, tapi salah dua yang lumayan sering gw tonton adalah Ricky Gervais dan Louis C.K., both are pretty harsh. Setelah bertahun-tahun vakum, tahun ini Gervais memulai lagi tur stand-up komedinya, dan salah satu berita yang gw baca adalah tentang ini. But he got the point:


Di artikel tersebut juga disebutkan kalau stand-up nya ngangkat topik tentang AIDS, cancer, paedophilia, famine, race, terrorism, rape, murder, drugs, death and even food allergies. Di stand up-nya yang terdahulu dia bahkan ngangkat tema tentang Tuhan. Jamaah, tenang semuanya, ga usah ada aksi-aksi bela Islam, yang dia angkat adalah joke tentang agama Kristen. Dia bahkan bawa injil ke atas panggung, baca ayat tertentu, terus dia bahas dan dia jadiin bahan komedinya. Di stand-up nya yang lain, dia bahas tentang Nabi Nuh dan perahunya. 

Louis C.K., ya mirip-mirip lah. Ngomongin child molesting, (massive-organized) sexual abuse yang dilakukan gereja katolik, becandaan tentang agama, gay, racism. Bukan hal yang aneh kalau ada amukan publik setiap C.K. atau Gervais habis manggung, dan ini cuma dua komedian, masih banyak komedian lain yang jokesnya bisa lebih 'ngeri' dari mereka berdua (gue nggak tahu soal stand up komedian Indo, yang pernah gw tonton Pandji, Ernest, dan Sakdiyah Ma'ruf. Pernah ada temen rekomendasiin seorang komedian ternyata isi stand-up nya pelesetan doang, duile, pret amat). Sedikit huru-hara yang terjadi ketika Louis C.K., ngangkat tema tentang child molesting di opening monolog-nya SNL .


Gw suka point yang diangkat di video itu, 'We are not really asking if someone was offended, are we? What we're asking if what he said is morally right.' Dan pertanyaannya  'How do we determine if somebody's joke is morally wrong?' Sedangkan dia sendiri bilang kalau moralitas itu bergeser, there is a shift in morality. Jadinya gimana? Si narator di video tersebut bilang caranya adalah dengan membiarkan para komedian tersebut untuk ngangkat tema yang membuat kita merasa nggak nyaman atau bahkan sesuatu yang dianggap salah. Dan gw rasa hal ini ada benarnya. Seberapa aware kah kita dengan hal yang membuat kita nggak nyaman? Mungkin kita nggak aware, tapi dengan C.K. ngomongin hal ini, kita jadi ngeh bahwa hal tersebut terjadi di masyarakat kita. Apa iya kita nyaman dengan topik seputar child molesting? Nggak lah, itu bukan topik yang bakal dibicarakan ketika kita ngumpul bareng temen-temen karena kita akan lebih memilih ngomongin gosip terbaru yang dipost lambe turah, tapi ketika komedian ngangkat tema itu, efeknya akan jadi besar dan seharusnya bikin kita lebih aware dengan hal itu. 

Contoh lain, masih dari video yang sama di mana C.K. ngomongin child molesting, dese pun ngomongin mild racism yang mana gw bisa relate dan ngerasain hal yang sama dengan dia. 


Gw juga punya mild racism meski cuma sampai di level prejudice dan mentok di level pikiran, nggak sampai keluar di omongan atau tindakan :))). Berapa banyak coba orang yang punya mild racism seperti yang dicontohin C.K.? Gw rasa sih hampir semua orang, tapi banyak yang nggak sadar dan ngerasa, 'Gw sih nggak rasis sama sekali ya, I'm awesome and a decent human being.' Ah masak sih? :)))) 

Jadi kesimpulannya, apa ada hal yang nggak boleh dibecandain? 
Read More »

Thursday, 15 June 2017

Kelakuan Sobat Kizmin pada Masanya

Siapakah sobat kizmin tersebut? Gw lah salah satunya. Seperti pernah gw singgung sedikit di sini *ya elu mah emang ditambah pelit kali Ning!! :))*. Sebenernya kepikiran waktu tadi pagi manasin air buat bikin kopi. Seumur-umur gw ga pernah punya water boiler elektrik, di rumah, dulu kalau mau air panas ya nggodok pake ceret (ceret apaan sih Bahasa Indonesianya?), sekarang mending ya ada dispenser. Terus gw inget, momentum gw punya water boiler pertama kali adalah di Landa. Dari manakah gw mendapat water boiler?  Apakah gw bela-belain beli yang bagus sekalian supaya awet? Oh tidak. Apakah gw beli di supermarket diskon? Oh tidak. Apakah lungsuran angkatan atas? Oh tidak. Terus dapet dari mana woyyy?!?!? Mulung Nemu di suatu koridor. 

Gw emang ter-sobat kizmin :)))).

Lungsuran barang dari angkatan atas sih biasa banget, bahkan udah bukan hal yang anehlah barang seken. Di city center pun ada toko yang khusus ngejual barang seken dan nggak pernah sepi peminat. Jadi ya perkara mulung-memulung barang emang lumrah. Beberapa barang yang gw punya selama di sana adalah hasil mulung. Selain water boiler, hasil mulung gw diantaranya adalah rak, winter boot, tas, sampai baju. Orang-orang biasanya udah paham, ketika mereka mau pindah dan banyak barang yang nggak diinginkan tapi masih dalam kondisi bagus tapi nggak kejual, mereka biasanya akan sortir dan mereka simpan di dalam pintu koridor di mana dia tinggal. Cuma masalah waktu aja, biasanya sobat-sobat kizmin macem gw akan gerak cepat untuk mengamankan barang yang dirasa masih bisa dipakai. Beberapa jam kemudian biasanya gundukan barang tersebut udah habis dan tinggal nyisa perintilan nggak penting. Masalah selesai. Sampah berkurang dan semua senang.

Lain halnya kalau barang yang nggak diinginkan udah jelek, biasanya si pembuang akan langsung buang ke dumpster di student housing tersebut. Nah, tapi pernah juga nih gw nemu barang-barang masih bagus dan bersih di dumpster. Tas yang isinya baju, jaket, sampai sepatu. Ya gw amankan lah barang yang gw rasa oke, bahkan masih ada satu jaket Giordano hasil mulung dari dumpster tersebut yang masih gw pake sampai sekarang *ya envelope, why did I even tell this :)))??*   

Kadang ada juga sih orang-orang kampret yang emang niatnya pure buang barang. Barang-barangnya udah juelek pol dan ngga kepake tapi mereka simpen gitu aja di pintu depan koridor. Biasanya karena mereka terlalu malas buat buang ke dumpster dan  ngebiarin supaya petugas kebersihan gedung yang buangin barang tersebut. Entah kenapa gw sering mikir kalau yang kelakuannya gini mungkin orang Aprika *oh prejudice :))* Ya abis, kejadian begitu biasa gw temui di student housing yang dominannya orang Aprika dan Indo, dan orang Indo kayaknya nggak gitu (gitu amat) deh :)))), fufufufufufu.

Nah, dalam perkara mulung-memulung ini, Indonesian brotherhood dan sisterhood biasanya gercep. Ya mungkin nggak semua, palingan gw dan sobat kizmin lainnya yang sejenis gw *ciyaaannn* Misalnya ada anak Indo lagi lewat lantai 12 dan liat ada seonggok setrika dan barang lainnya, biasanya dese langsung kasih tau anak Indo lainya yang tinggal di housing tersebut supaya dia ngecek siapa tahu ada yang dia butuhin, begitu pula sebaliknya. Dari segala jenis barang yang pernah gw liat di sekitar pintu koridor, kayaknya kulkas udah yang paling heboh. Iya sih kulkas kecil, tingginya paling 1-1.2 meter, tapi kan tetep aja itu kulkas bokkkk. Dan percayalah, kalau kulkasnya masih berfungsi, orang yang ngincer bakal bela-belain dengan segala daya upaya untuk ngambil kulkas tersebut. Biar kata dia tinggal di lantai yang beda dari kulkas tersebut ditemukan, prosesi geret-menggeret masuk-keluar lift bakal tetap dijalani.   

Latar belakang mulung barang untuk sobat-sobat kizmin ini boleh jadi beda-beda, tapi satu hal,   Mz Leo DiCaprio pasti bangga dengan prosesi reuse barang ini :))).
Read More »

Wednesday, 14 June 2017

When You Read Books Written by Swedish Author

Do expect to come across typical Swedish name. 

So, I managed to finish the third book of Millennium Trilogy, and at some points I realize that those typical Swedish names appear more and more. Since I had so much time in hand, I decided to check on them and here they are :)))

The Girl with the Dragon Tattoo
Abrahamsson, Carlsson, Magnusson, Nilsson, Aronsson, Pettersson, Svensson, Torstensson, Toresson, Larsson, Jacobsson, Gustavsson, Karlsson, Samuelsson, Persson, Torsson, Andersson, Adolfsson, Oskarsson, Eriksson.

The Girl who played with Fire
Larsson, Persson, Mikaelsson, Axelsson, Eriksson, Nilsson, Svensson, Johansson, Magnusson, Fransson, Oskarsson, Carlsson, Hansson, Ohlsson, Mårtensson, Olofsson, Håkansson, Karlsson, Andersson, Gunnarsson, Samuelsson, Nicklasson, Viktorsson, Gustavsson, Ottoson, Gustafsson, Jansson.

The Girl who Kicked the Hornet's Nest
Jonasson, Paulsson, Svensson, Johansson, Andersson, Kaspersson, Eriksson, Nilsson, Magnusson, Rikardsson, Fransson, Karlsson, Göransson, Svantesson, Thomasson, Carlsson, Danielsson,  Mårtensson, Oskarsson, Ottosson, Josefsson, Karlsson, Olsson, Fredriksson, Torkelsson, Fransson, Adamsson, Svantesson, Faulsson, Martinsson, Hansson.

Now I start wondering, do I sound Swedish if i change my name to Bening Mayantsson?
Read More »